12 April 2015

Berakhir Pekan Ke Kawah Putih Ciwidey

Dua hari menjelang long weekend minggu lalu, teman-teman di kantor mulai kasak kusuk mencari tempat untuk menghabiskan liburan. Beberapa diataranya melibatkan saya dengan membuat rencana dadakan untuk berangkat ke Bandung sepulang kerja di hari Kamis malam. Mbak Dini bahkan menawarkan untuk menggunakan mobilnya dalam perjalanan. Sejumlah persiapan super singkatpun kami lakukan, diantaranya mencari tempat menginap satu malam dan kemana tujuan kami berlibur ke Bandung. Setelah disepakati, kami berencana akan berwisata ke Kawah Putih Ciwidey dan Tebing Keraton. Sempat nyaris batal berangkat karena dua orang yang rencananya ikut serta tiba-tiba berhalangan. Mas Jun yang tiba-tiba harus mengisi acara di televisi dan Hanum yang tiba-tiba kondisi tubuhnya drop. Tapi angin apa yang membuat Hanum akhirnya tetap masuk kantor dan mengajak saya serta mbak Dini untuk tetap meneruskan rencana semula. Dan akhinya kamipun nekat berangkat berempat dengan personil saya, Mbak Dini, Hanum dan Juned. Sedangkan Mas Jun berjanji akan menyusul kami hari Jumat pagi. 

Kamis sore sekitar pk.18.00 kami langsung ngacir dari kantor dan berencana masuk tol dari Tebet. Apa daya, lalulintas Jakarta malam itu sangat tidak bersahabat. Sampai mendekati pk.21.00 kami baru sampai di kawasan Pancoran dan memutuskan untuk makan malam dulu di Tebet Green. Mendekati pk.22.00 kami melanjutkan perjalanan dan ternyata macet panjang belum berakhir. Meskipun tersendat kami memutuskan untuk jalan terus. Karena kemacetan panjang tersebut kami baru keluar dari tol Kopo sudah hampir pk.02.00. Selanjutnya tinggal mengikuti penunjuk arah yang cukup banyak dan jelas untuk menuju Ciwidey. Dalam kondisi demikian sepertinya akan sangat mubazir bila tetap meneruskan rencana menginap di hotel. Akhirnya kami memilih tidur di area warung-warung sebelum gerbang masuk Kawah Putih Ciwidey. Untungnya kami bukan satu-satunya yang memutuskan tidur di sana. Ada beberapa mobil lain yang sepertinya juga menunggu pagi untuk naik ke atas kawah. Kami sempat ngemil dan minum bandrek susu di salah satu warung. Dan bandrek susunya enak sekali menurut saya. Harganya juga tidak mahal. Selesai ngemil, satu persatu kami masuk ke mobil untuk tidur karena udara di luar yang sangat dingin.

Pk.06.00 pagi kami sudah bangun dan langsung sarapan tahu sumedang panas beserta bandrek susu di warung yang semalam. Mbak Dini dan Hanum awalnya ingin menumpang mandi, tapi ternyata airnya sangat dingin sehingga akhirnya hanya cuci muka saja. Dari tempat kami menginap ini ada dua cara untuk menuju Kawah Putih, yaitu naik Ontang Anting atau sejenis kendaraan umum seharga Rp.15.000,-/orang dan kedua tentu saja dengan mobil yang kami bawa dengan membayar uang masuk untuk mobil sebesar Rp,150.000,-. Lebih mahal memang ketimbang naik ontang anting, tapi demi alasan kepraktisan suaya tidak perlu tunggu menunggu penumpang lain pada saat akan naik dan turun akhirnya kami pilih cara kedua. Kami sempatkan terlebih dahulu untuk foto-foto riang gembira. Mulai dari foto sendiri-sendiri sampai foto berempat termasuk foto alas kaki yang kami pakai. Kapanlagi lah. Hahahaha..

Setelah membayar retribusi masuk, kami mulai memasuki jalan menanjak yang hanya cukup untuk dua mobil saja. Itupun kalau ada mobil yang berukuran besar, salah satunya harus menepi sedikit supaya bisa muat untuk dilalui. Karena udara sangat segar dan dingin, kami memutuskan untuk membuka jendela lebar-lebar dan mematikan AC. Maksud lainnya adalah supaya mobil lebih kuat menanjak. Menurut Hanum dan Juned yang sudah pernah ke sini sebelumnya, jalanan yang kami lalui sudah mengalami pelebaran dibandingkan kunjungan mereka sebelumnya. Syukurlah kalau begitu.. Suasana yang hening dengan kicau burung dan kabut tipis yang turun membuat perjalanan jadi begitu romantis kalau bersama pasangan. Sayangnya yang duduk di sebelah saya adalah Juned dan yang duduk di belakang adalah Hanum dan Mbak Dini yang merupakan teman kantor. Rusak sudah khayalan akan suasana romantis.

Sekitar 20 menit melewati jalan mendaki, sampailah kami pada sebuah tempat datar yang cukup luas. Ini adalah tempat pemberhentian mobil maupun ontang anting sebelum menuju ke Kawah Putih.  Ada sebuah rumah kayu bertuliskan Perhutani. Kalau mau ke toilet juga tersedia di sini. Tempat parkiran sangat luas sehingga tidak perlu kuatir tidak mendapat tempat. Jangan lupa untuk berfoto di depan tulisan Kawah Putih seperti yang saya lakukan. Kalau bisa sih naik ke atas kawah sepagi mungkin, sebab kalau semakin sore akan lebih banyak orang yang datang dan pastinya harus mengantri untuk berfoto di tempat yang diinginkan.

Untuk menuju kawah kita harus melewati gerbang yang kalau menurut saya sih mirip dengan gebang-gerbang kuil di Jepang. Mumpung bagus dan ngga ada orang lewat, langsunglah pasang gaya di depan gerabang. Puas foto-foto langsung deh menuruni tangga untuk menuju kawah. Tangganya sudah dibagi menjadi 2 bagian, satu bagian untuk turun dan satu bagian untuk yang akan naik. Jadi lebih teratur lah. 

Dan inilah Kawah Putih Ciwidey dengan warna air yang berwarna putih kehijauan. Warna kawah terkadang berubah menjadi lebih hijau dan terkadang lebih putih seperti saat saya datang tempo hari. Untungnya belum ramai orang yang berada di kawah sehingga kita leluasa untuk memilih tempat berfoto. Kabarnya Kawah Putih ini terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Kawah ini terletak pada ketinggian 2090 mdpl di bawah puncak Gunung Patuha. Untuk alasan keselamatan sebaiknya kita membawa dan menutupi hidung dengan masker, apalagi bila angin sedang berhembus kencang. 

Menyenangkan sekali tamasya ke Kawah Putih Ciwidey. Apalagi perginya bersama teman-teman. Ada teman ngobrol dan pastinya ada teman yang bisa diminta untuk memotret kita dalam berbagai pose. Oh ya, kalau mau ke Kawah Putih Ciwidey, siapkan baju hangat seperti jaket dan pakai celana panjang yah supaya tidak masuk angin karena cuaca di sana yang cukup dingin. Catatan perjalanan ke Tebing Keraton akan saya tulis dalam postingan berikutnya. Nantikan yah...

08 April 2015

[Review Hotel] Hotel Santika Makassar

Dua hari perjalanan di Makassar saya isi dengan menginap di dua hotel yang berbeda. Padahal jarak hotel yang pertama dan hotel yang kedua hanya tinggal ngesot saja alias dekat sekali. Tapi berhubung tawaran menginap dengan special rate di hotel kedua datang setelah saya booking kamar di hotel pertama, jadilah saya memutuskan untuk menginap di dua hotel yang berbeda. Dan inilah hotel kedua yang saya inapi dalam perjalanan ke Makassar untuk kegiatan pelarian saya tempo hari. Hotel ini bernama Hotel Santika.


Hotel Santika Makassar adalah hotel berbintang tiga di bawah bendera Santika Indonesia Hotels & Resort yang mengoperasikan lebih dari 50 hotel dengan brand Hotel Santika, Hotel Santika Premiere dan Amaris Hotel. Hotel Santika Makassar sendiri merupakan hotel berbintang tiga yang beroperasi sejak tahun 2007. 

Lobby Hotel Santika Makassar terasa besar dan lega. Sofa-sofa diletakkan di pinggir sedangkan meja resepsionis berada di bagian tengah. Lihat sofa besar yang empuk langsung pengen selonjoran deh. Untungnya petugas resepsionis yang cantik dan ramah cukup cekatan memproses kamar saya. Hanya dalam hitungan menit, kunci kamar saya sudah tersedia untuk di tempati. Jempol ! Batal deh selonjoran di sofa. Hahahahaha...

Koridor menuju kamar hotel dilapisi karpet bermotif dan hiasan dengan motif kain tradisional Makassar. Di atas pintu kamar juga terdapat lampu berwarna putih yang menghasilkan lighting yang oke terlihat di malam hari. Yang jelas sih ngga horor kalau mau lewat koridor di malam hari. Pintu kamar hotel berwarna putih dengan bandul untuk mengetuk pintu di atas nomor kamar. 

Untuk kamar yang saya tempati seorang diri, ruangan ini terasa cukup besar. Coba kalau ada pendamping hidup, pasti terasa lebih hangat *menghayal level dewa dewi*. Kasurnya empuk, hanya susunan bantalnya kok kurang rapi yah ? Saya coba rapikan supaya lebih oke di foto ternyata malah tambah berantakan. Untung sebelum dirapikan sudah foto terlebih dahulu. Tapi sudahlah. Yang penting kasur dan bantalnya empuk.

Hotel Santika Makassar ini baik banget loh. Kalau di hotel lain biasanya kita hanya mendapat 2 botol air mineral per hari, di Hotel Santika Makassar saya mendapat 4 botol air mineral. Dua botol di atas meja yang tersusun bersama teh, kopi, gula dan teman-temannya. Dua botol lagi berada di kamar mandi. Tidak hanya itu, saat mendapat kunci kamar saya juga mendapat bisikan dari mbak resepsionis cantik kalau minuman di minibar juga free. Begitu saya buka kulkas memang hanya ada 3 minuman kotak. Tapi gratis dong ini.. Maka wajib hukumnya untuk di minum. Dasar muka gratisan :))

Fasilitas lain yang berada dala kamar adalah safe deposit box yang kali ini cukup berguna untuk menyimpan beberapa barang berharga saat saya keluar hotel. Sendal hotel juga tersedia dua pasang di mana salah satunya saya bawa pulang untuk koleksi. Duuh koleksi saya yang satu ini kok tambah banyak yah sepertinya numpuk di kamar. Hehehehe.. Meja kerja dalam kamar juga cukup luas walaupun saya lebih suka mengerjakan pekerjaan dengan menggunakan laptop dari kasur sambil tiduran. 

Karena hotel sudah beroperasi sejak tahun 2007 lalu, trend kamar mandi yang dibatasi dengan kaca sepertinya belum diadopsi di sini. Tapi kamar mandinya cukup luas dan bersih. Seperti yang saya bilang, ada dua botol air mineral di kamar mandi, lalu toiletries pun tersedia cukup lengkap. Yang kurang sepertinya hanya hair dryer. Sejak mulai nge-gym tahun lalu saya memang cukup suka memakai hair dryer. Tapi bukan untuk mengeringkan rambut melainkan untuk mengeringkan dan menghangatkan badan setelah mandi. 


Sore hari saya sempatkan nongkrong di Spermonde Lounge yang terletak di lantai 11 Hotel Santika Makassar. Tempatnya sangat nyaman dengan sofa-sofa yang empuk dan cukup tega menahan saya berlama-lama duduk hingga akhirnya mengeluarkan isi dompet untuk membeli sandwich tuna dan juice semangka. Tapi ngga rugi juga sih, sandwichnya banyak dan enak. Juice semangkanya juga segar karena saya minta tidak dicampur gula dan susu. Cukup lama saya nongkrong di situ sembari hahahihi dengan orang-orang di social media. Duuh sedihnya... Coba ada pasangan, pasti lebih seru berhahahihi berdua di sini.

Sarapan pagi berlangsung di Kafe Kalosi yang berada di lantai 3 Hotel Santika Makassar. Saya turun sarapan sebelum jam 6 pagi karena harus mengejar pesawat saya kembali ke Jakarta. Untungnya semua menu sudah siap, ditambah lagi belum ada yang sarapan sehingga suasana jadi sepi dan enak buat foto-foto suasana resto, makanan dan tentu saja foto selfie.

Pilihan menu sarapan di Hotel Santika Makassar cukup bervariasi. Sampai bingung juga mau sarapan apa saking banyaknya pilihan. Tidak hanya makanan, minuman yang disediakan juga cukup beragam, mulai dari pilihan teh atau kopi panas hingga juice dan susu. Bagi yang suka salad, tersedia salad bar dengan beberapa pilihan sayuran. Dan yang paling saya suka dari Hotel Santika adalah menu tradisional yang terhidang dalam tungku tanah liat. Untuk hari itu ada pilihan menu tradisional Nasi Pecel dan Coto. 

Bagi yang suka roti juga tersedia aneka roti manis maupun roti tawar lengkap dengan selainya. Karena agak terburu-buru ditambah bingung pula mau makan apa, saya memilih menyantap banyak menu dalam porsi kecil. Yang penting semua tercicip. Biar ngga kepo dan nyesel kalau sudah check out. Hahahahaha... 

Tidak ada kolam renang di Hotel Santika Makassar. Tapi fasilitas kebugaran di sini lumayan lengkap loh. Ada tempat gym yang cukup banyak alatnya, ada sauna dan tempat massage, lalu ada pula jacuzzi . Sayangnya saya tidak mencoba satupun fasilitas kebugaran karena dalam kondisi lelah habis berlari, Tadinya sih mau coba massage, tapi lebih tertarik tidur saja untuk recovery. Yah sudahlah...

Bagaimana ? Asyik kan fasilitas yang ada di Hotel Santika Makassar ? Yang jelas hotel ini cukup dekat dengan pantai Losari dan tempat-tempat kuliner hits di Makassar. Ke airport saja bisa ditempuh sekitar 45 menit. Kalau teman-teman tertarik mau menginap di sini silahkan datang langsung atau hubungi :

Jalan Sultan Hasanuddin No. 40
Makassar 90111- INDONESIA
Phone : (62-411) 3632233, 3635599
Fax : (62-411) 3632277
Email : makassar@santika.com

06 April 2015

Wisata Kuliner di Makassar

Masih dalam rangka kunjungan saya ke Makassar untuk mengikuti event lari Bosowa Half Marathon , rugi besar rasanya sudah jauh-jauh terbang ke Makassar bila saya hanya berdiam diri di kamar hotel. Walaupun memang tidak terlalu banyak merencanakan untuk berjalan-jalan, tapi target saya untuk berwisata kuliner sih sepertinya sudah merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar. Mau tahu beberapa tempat kuliner yang saya datangi di Makassar ?

1. Konro Karebosi

Tempat kuliner pertama yang saya kunjungi adalah Konro Karebosi dengan menu andalan konro bakar. Di Jakarta memang sudah banyak restoran dengan sajian konro bakar khas Makassar ini, tapi tetap saja makan konro di kota asalnya harus masuk dalam list saya. Di Makassar sendiri Konro Karebosi sudah memiliki beberapa cabang. Karena saya waktu itu habis mengambil racepack di Lapangan Karebosi, maka saya memilih Konro Karebosi yang berlokasi tidak jauh dari lapangan Karebosi. Tempatnya berlantai 2 dan cukup besar. Teman saya Cipu memilih konro tanpa tulang, sedangkan saya memilih konro dengan tulang. Rasanya lezat sekali. Kalau beberapa resto konro di Jakarta menampilkan menunya dengan dominasi kecap di atas konro bakar, kalau di Makassar sendiri konro bakar disajikan dengan kuah kacang yang melimpah ruah sehingga rasanya menjadi gurih. Dengan menyisihkan uang sekitar Rp.50.000,-an saja, kita bisa menikmati menu konro bakar, nasi putih dan es teh manis.

2. Pallubasa Serigala

Kuliner Pallubasa adalah salah satu kuliner favorit saya kalau berkunjung ke kota Makassar. Saya tidak pernah melewatkan kunjungan ke kota ini tanpa singgah dan mencicipi menu pallubasa yang lezat dan gurih. Di Makassar ada beberapa tempat yang menjual menu pallubasa, tapi kalau saya sendiri sudah biasa makan di Pallubasa Serigala yang berlokasi di jalan Serigala. Tempatnya memang tidak besar, tapi pengunjung restoran ini datang silih berganti. Pallubasa sendiri berisi daging dan jeroan, kita bisa memilih di campur atau hanya ingin salah satunya saja. Kita juga bisa meminta tambahan telur mentah yang nantinya akan matang setelah diaduk. Kuahnya juga gurih karena ditaburi kelapa sangrai. Walaupun satu porsi disajikan dalam mangkuk yang terlihat kecil, tapi porsi ini sangat mengenyangkan. Untuk harga, satu mangkuk pallubasa yang berisi daging dan jeroan ditambah nasi putih dan segelas es teh manis saya bayar seharga Rp.27.000,- saja. Murah bukan ?

3. Bakso Ati Raja

Sore-sore asyiknya makan bakso. Makassar juga punya resto bakso yang ternama loh. Namanya Bakso Ati Raja. Tentu saja ini hanya nama yah, karena bakso ini tetap terbuat dari daging sapi dan bukan dari daging hati raja. Hahahaha... Menu bakso di sini sebenarnya namanya adalah Nyuknyang, jadi kalau kamu cari di buku menu kamu harus pilih menu ini. Satu porsi berisi 10 butir bakso yang terdiri dari 6 bakso halus, 2 bakso kasar dan 2 bakso goreng. Buat saya, bakso yang enak itu adalah bakso yang sudah terasa lezat tanpa dicampur kecap, sambal, cuka dan bumbu tambahan lainnya. Dan Bakso Ati Raja ini memang sudah enak tanpa tambahan saus dan sambal. Kuahnya segar, baksonya lembut, bakso kasarnya juga menggoda dan bakso gorengnya juga enak. Top ! Satu porsi Nyuknyang ini kalau saya tidak salah harganya lebih dari Rp.20.000,-. Kalau mau dibawa sebagai oleh-oleh juga bisa dengan adanya minimal jumlah pemesanan. Bakso akan dibungkus dalam kemasan yang oke. Oh ya lokasi Bakso Ati Raja ini berada di Jalan. Gunung Merapi Makassar.

4. Mie Anto 

Salah satu kuliner khas Makassar yang cukup ternama adalah sajian mie kering. Ada beberapa nama kondang yang sering saya dengar di Jakarta. Kali ini saya berkesempatan untuk mencoba Mie Anto yang berlokasi di Jalan Bali. Tempat ini buka dari sore hingga menjelang pagi. Kalau kita datang di saat jam makan malam, perlu mengantri dulu sebelum mendapat tempat duduk di dalam. Kita bisa memilih porsi sedang atau porsi besar saat memesan. Tapi percayalah, keduanya buat saya tetap sama banyaknya. Dalam satu porsi kita akan mendapati mie yang digoreng kering pada bagian bawah dan disiram kuah yang berisi potongan daging ayam dan sayuran di atasnya. Jangan lupa untuk memeras potongan jeruk lemon di bagian atas supaya mendapat cita rasa segar. Jujur saya langsung kenyang duluan begitu melihat porsi yang terhidang di hadapan saya. Tapi rasa memang tidak bohong, kuahnya nya benar-benar rasa kaldu ayam asli dengan rasa yang lezat. Rasa daging ayamnya juga lezat dengan potongan yang besar-besar. Seporsi Mie Anto ini berkisar Rp.20.000,- an.

Senang sekali bisa mencoba banyak kuliner khas yang mungkin selama ini cuma bisa bayangkan rasanya. Saya tahu masih banyak kuliner Makassar lainnya yang belum saya coba, yah hitung-hitung ini PR saya kalau kelak kembali lagi ke Makassar. Yuk jelajahi tanah air :) .