11 February 2005

Laki-Laki Menangis ??Kenapa Tidak ??

Bagi kebanyakan laki-laki, menangis merupakan hal yang tabu untuk di lakukan. Saya tidak tahu persis sejak kapan hal tersebut mulai berlaku. Yang jelas saya masih sangat ingat ketika kecil dulu, ayah dan ibu selalu melarang anak laki-lakinya untuk menangis. Semakin kami besar larangan itu semakin gencar kami dengar. Ketika jatuh dari sepeda dan lutut saya berdarah karenanya, sayapun menangis karena tak kuasa menahan rasa sakit dari luka tersebut. Bukannya belaian lembut seorang ibu yang saya dapatkan ketika mengadu, malahan omelan yang lumayan pedas di telinga yang saya dapatkan. Ibu saya malah berkata,"luka begitu aja pake acara nangis segala, mau jadi bencong yah ?". Dan saya pun terpaksa berhenti menangis karena saya tidak mau di panggil bencong. Ayah dan ibu saya selalu menggunakan istilah bencong untuk menjuluki anak laki-laki yang cengeng. Dan menurut kami, julukan bencong itu adalah aib besar. Maka kami pun terpaksa berhenti menangis daripada mendapatkan julukan bencong.

Saat ini di usia saya yang tergolong dewasa, saya masih sering mendengar orang tua yang memarahi anak laki-lakinya yang menangis. Dan istilah bencong itu masih juga kerap terdengar untuk menjuluki anak laki-laki yang cengeng. Huhuhu... rupanya yang satu ini belum juga berubah dari zaman ke zaman. Bagaimana dengan saya sendiri ??? Jujur saja, saya masih suka menangis sampai sekarang. Tapi air mata saya itu bukan untuk konsumsi publik. Saya hanya menangis di dalam kamar dan tidak menjadikan menangis sebagai suatu kebutuhan pokok. Julukan bencong itupun sudah tidak mempan lagi untuk saya. Kenapa harus malu kalau menangis. Toh saya juga menangis sendirian, ngga ada yang tahu dan ngga ada yang lihat.Cuma saya dan Allah saja yang tahu. Toh Allah sampe detik ini ngga pernah menegur saya gara-gara saya suka menangis sendirian di kamar, apalagi ngatain saya bencong. Lagipula, saya merasa dengan menangis semua beban yang saya rasa di hati bisa hilang dalam sekejap. Dan saya juga punya prinsip, hanya boleh menangisi suatu masalah satu kali saja. Jadi tidak ada istilah bagi saya untuk menangisi masalah yang sama dua kali.

Menurut saya menangis itu jauh lebih baik daripada menyimpan semua beban di dalam hati. Bisa stress tuh.Saya sendiri setelah puas menangis semaleman, besoknya pikiran akan jauh lebih tenang untuk menghadapi masalah tersebut. Bukankah pikiran yang tenang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah ? Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, kasihan juga yah para bencong kalau mereka selalu di jadikan label atas kecengengan seorang laki-laki. Padahal saya pernah menyaksikan sebuah tayangan di televisi yang menampilkan kehidupan para waria, dimana salah seorang dari mereka mengeluarkan statement yang membantah bahwa mereka adalah kaum yang lemah dan cengeng serta lari dari kenyataan hidup. Waria itu bilang, kalau mereka cengeng dan hanya meratapi nasib, mereka tidak akan survive sampai detik ini. Dia juga berkata bahwa air mata tidak akan mengenyangkan perut mereka. Nah loh, apa masih pantes para waria atau bencong (begitu ibu saya menyebut mereka) menjadi simbol kecengengan seorang laki-laki ? Faktanya, saya pernah membaca sebuah buku yang menyatakan bahwa menangis akan membantu membuang kotoran-kotoran yang terdapat di mata. Jadi ?? Semua tergantung dari sudut mana anda memandang.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....