07 February 2005

Menjelang Seperempat Abad

Bulan April nanti saya genap berusia seperempat abad, dan di usia yang bisa di bilang sudah cukup matang ini saya malah masih berkelakuan seperti ABG, setidaknya begitu kata orang-orang di sekitar saya.

Saya masih suka pakai tas ransel, sementara teman-teman saya sudah mulai meningalkannya. Mereka lebih suka memakai tas ala pegawai-pegawai kantoran. Padahal banyak yang sebenernya belum punya pekerjaan.Pada dasarnya saya bawa tas ransel bukannya buat bergaya. Tas ransel saya malah dari pertama di beli dua tahun lalu sampai sekarang belum pernah yang namanya di cuci. saya pakai ransel karena kebetulan saya tipikal orang yang kalau bepergian suka ngga inget pulang, jadi di dalam tas saya selalu tersedia yang namanya sikat gigi, handuk kecil, baju dan cd ganti. Selain itu tidak lupa tersedia satu atau dua buku bacaan yang saya baca di kala sedang menunggu ataupun sedang bosan. Bisa dibayangkan jika semua barang itu ada di dalam tas ala pegawai kantoran yang di selempangkan di pundak... Berat man !!!

Saya lebih suka memakai kaos yang ngepas di badan serta celana jeans dan sendal jepit daripada memakai kaos berkerah, celana dasar dan sendal kulit ala pria-pria esmud. Bukannya ngga mau make, tapi lucu aja geto loh. Saya ngerasa kaya om-om. Padahal saya emang udah jadi om-om beneran *ngakak*. Kalo di pikir-pikir saya toh bukan esmud, ngapapin juga berpenampilan ala esmud ?

Teman-teman saya bilang kalau saya adalah orang yang malas, suka menghambur-hamburkan uang orang tua, dan tidak punya pemikiran untuk masa depan. Huhuhu... Itu adalah pemikiran yang sangat keliru, karena di saat teman-teman saya baru mulai merancang masa depannya sekarang, saya sudah jauh-jauh hari sebelumnya merancang masa depan itu. Di saat mereka masih senang berhura-hura menghabiskan masa sekolah dan kuliah yang indah, justru saya sudah memikirkan mo jadi apa saya kelak, bahkan saya sudah mempersiapkan pola untuk mendidik anak-anak saya. Dan saya juga bukan anak tidak tahu diri yang sampe umur segini masih teriak-teriak sama bapaknya minta duit segini dan hari ini juga harus ada. Huh.. salah besar. Jika anda mau tahu berapa jumlah uang bulanan saya yang saya terima dari bapak saya. Cuma 200 ribu rupiah ! dan itu pun tidak saya dapatkan sekaligus, melainkan dua minggu sekali. Kalaupun saya bisa beli baju, celana, sendal dan tetek bengek lainnya tanpa harus meminta uang tambahan, itu pinter-pinternya saya saja :P

Ada seorang kampus saya yang baru mendapatkan pekerjaan selalu bercerita betapa capeknya bekerja, sampe sabtu dan minggu pun harus istirahat di rumah supaya senin nya bisa fresh. Dan dia menasehati saya supaya menghargai waktu, supaya menghargai orang tua yang capek membanting tulang untuk mendapatkan nafkah karena dia baru tahu betapa bekerja itu sangat melelahkan. Huhuhu.. makasih sarannya bro, tapi menurut saya, kamu terlalu berlebihan. Dan itu sangat menyebalkan ! Mulut kamu selalu berceloteh tentang capeknya kerja, susahnya mencari uang dan bla bla bla lainnya. Kamu menjadikan kerja sebagai pembenaran untuk tidak bisa kumpul sama teman-teman, untuk membanggakan diri kamu lebih dari yang lain, untuk sebebasnya menyindir temen-temen kamu yang belum kerja. Memang sih itu urusanmu sendiri. tapi percayalah... Cepet atau lambat, kamu bakal kehilangan temen. Dan satu hal yang perlu kamu tahu, saat kamu masih sibuk-sibuknya dengan urusan kuliahmu, saya sudah terlebih dahulu banting tulang buat diri saya sendiri. saya sudah tau gimana capeknya kerja, saya sudah tahu nyari duit itu susah. Kerjaan saya dulu lebih berat dari kerjaan kamu sekarang ini, karena saya dulu terkadang mesti begadang sampe pagi untuk mendapatkan uang yang ngga seberapa besar. Tapi saya nga menjadikan itu sebuah alasan untuk tidak berkumpul sama temen-temen, saya bisa dugem bareng temen-temen, masih bisa nginep n begadang bareng. Dan saya juga tidak menjadikan pekerjaan saya sebuah alat untuk membanggakan diri sendiri, karena saya tahu di atas langit masih ada langit. masih banyak yang jauh lebih baik daripada saya.

Nb : Saya di usia menjelang 25 tahun, sudah punya rancangan masa depan yang siap saya jalankan. Di saat orang lain masih mereka-mereka mau jadi apa mereka nanti, saya sudah tinggal menjalankan apa yang saya rencanakan dari jauh-jauh hari. Itulah yang membuat saya selalu terlihat santai dan selalu terlihat optimis. Satu sifat dari bapak saya yang saya pelajari sedikit demi sedikit. Jangan sampai masalah apapun mengganggu tidurmu, karena itu membuatmu lebih tua secara fisik esok hari. Sama seperti bapak saya yang kata orang masih terlihat berusia 40 an di usianya sekarang yang hampir mendekati 60 tahun. Sayapun seringkali masih di kira anak SMA atau mahasiswa baru. dan itu artinya resep awet muda bapak saya sudah sukses saya terapkan. Hahahahaha....

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....