25 February 2005

S P G

Semua anak-anak muda Palembang sudah pasti tahu kalau di kawasan Ilir Barat Permai terdapat dua tempat perbelanjaan ternama yaitu Hero dan Ramayana. Semua juga sudah pada tahu kalo di depan pusat perbelanjaan itu banyak sekali pedagang gorengan di sana. Menariknya, ternyata gerobak-gerobak gorengan itu di jaga oleh para gadis-gadis ABG. Dan yang lebih menarik lagi, dalam menjajakan gorengan para gadis-gadis tersebut berdandan dan mengenakan pakaian yang modis ( saya malas bilang sexy ). Ada yang berdandan ala kadarnya, ada yang dandan menor, ada yang tampil modis dan tidak sedikit yang ancur abis. Anak-anak Palembang menjuluki gadis-gadis tersebut dengan sebutan Sales Pisang Goreng. Kenapa Sales Pisang Goreng ?? Karena saat mereka menjajakan dagangannya, mereka hanya menawarkan pisang goreng saja kepada pelanggan. Baru setelah ada yang membeli, mereka menawarkan gorengan yang lain seperti tahu bunting (tahu isi), singkong goreng, bakwan dan sebagainya.

Mereka menjajakan dagangan dengan cara melambai-lambaikan tangan kepada para pengemudi mobil dan motor yang lewat. Tidak jarang mereka menggunakan daya tarik mereka seperti mengerlingkan mata. Dan setelah calon pembeli di dapat, mereka semakin gencar merayu terutama kepada pembeli laki-laki supaya membeli dalam jumlah yang banyak.Dan jika kita membeli banyak terkadang kita mendapatkan service tambahan seperti sedikit obrolan ringan dan suapan mesra pisang goreng dari mereka. Sebagai salah satu konsumen tidak tetap, kadang-kadang timbul keisengan saya sebagai laki-laki untuk sekedar bertanya nama, alamat dan nomor telepon. Ada di antara mereka yang tidak segan-segan memberi tahu nama dan no teleponnya, tapi ada juga yang tidak bersedia. Tapi dari nomor-nomor yang saya dapatkan itu, tidak ada satupun yang pernah saya hubungi. Hahaha. Namanya juga iseng. Terus terang saya tidak tahu motif dari para Sales Pisang Goreng dalam menjalankan rutinitas mereka, apakah pyur hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dari menjajakan gorengan atau hanya sebagai kedok dari suatu bisnis prostitusi terselubung. Beberapa teman saya yang merupakan konsumen sangat tetap mengatakan bahwa sebagian besar dari para Sales Pisang Goreng tersebut bisa "dipakai". Tetapi setelah jam kerja mereka sebagai Sales Pisang Goreng berakhir tentunya.

Saya tidak tahu harus berkata apa menyikapi kontroversi ini, karena sebagai seorang laki-laki terkadang saya juga bisa khilaf. Bukan khilaf untuk memgencani mereka, tapi khilaf karena tak tahan godaan mereka yang memanggil-memanggil untuk membeli gorengan, dan setelah itu membuat suatu kekhilafan baru dengan balik menggoda mereka, bertanya nama dan nomor telepon serta meminta mereka untuk menyuapi pisang goreng ke mulut saya. Saya juga melihat dengan adanya para Sales Pisang Goreng ini, dagangan para penjual gorengan yang sebenarnya ini selalu laris manis. Padahal rasa dari gorengan yang mereka jual sangat biasa-biasa saja, malah terkadang sangat jauh dari kata enak. Saya pernah membeli pisang goreng yang pisangnya masih mentah, atau membeli bakwan yang di dalamnya sudah kehitam-hitaman. Jadi dengan kata lain, ramainya para pembeli di sana bukan karena rasa dari gorengan yang di jual, tetapi karena kemolekan para gadis penjajanya. Saya pernah berpikir, seandainya para penjual gorengan yang mempunyai ide untuk mempekerjakan para gadis-gadis untuk menjajakan dagangan mereka mengikuti mata kuliah manajemen pemasaran, tentulah mereka akan mendapatkan nilai A+. Hahaha...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....