04 March 2005

Gosip

Adalah hal yang alamiah apabila seseorang melihat, mendengar atau membaca sesuatu lantas kemudian mengeluarkan komentar yang beragam. Buktinya di blog saya dan blog teman-teman yang lain selalu di sediakan tempat khusus untuk berkomentar atas isi postingan. Semua orang mempunyai sudut pandang sendiri dalam mengomentari sesuatu. Saya pikir selama mereka berkomentar pada tempatnya, semua tidak akan menjadi masalah, baik untuk mereka sendiri maupun objek yang mereka komentari. Tetapi kembali lagi pada sifat alamiah seorang manusia yang selalu ingin tahu, selalu sok tahu dan selalu merasa paling tahu tentang sesuatu, maka mulailah beredar komentar-komentar yang tidak pada tempatnya, yang saat ini dikenal orang dengan sebagai gosip. Saya sendiri walaupun bukan berasal dari kalangan selebriti, ternyata tidak luput juga dari yang namanya gosip. Tidak tanggung-tanggung sejak SD saya sudah di gosipkan macam-macam, baik oleh tetangga maupun teman-teman sekolah.

Sewaktu SD dan SMP, teman-teman saya mayoritas adalah kaum hawa. Saya lebih senang bermain dengan mereka daripada dengan teman-teman laki-laki. Bukannya saya tidak pernah sama sekali bermain dengan teman laki-laki, saya masih punya waktu untuk bermain sepeda atau bermain bola dengan teman laki-laki. Tetapi tidak sebanyak waktu saya bermain dengan teman perempuan. Kenapa demikian ? Saya dari dulu lebih suka bermain dengan teman-teman perempuan karena bermain dengan mereka membuat saya jadi lebih pinter. Kenapa ngga pinter kalau mainnya sekolah-sekolahan atau main cerdas cermat. Dan buktinya, sewaktu SD saya selalu masuk peringkat 3 besar di kelas.Tapi ternyata kedekatan saya dengan teman-teman perempuan malah membuat saya di gosipkan macam-macam. Saya di juluki banci oleh teman-teman laki-laki dan tetangga-tetangga saya. Penilaian mereka ternyata hanya berdasarkan pergaulan saya dan bukan karena prestasi saya di sekolah. Saya sempat sangat marah dengan julukan yang demikian itu. Tapi ibu berkata pada saya, jika saya marah dengan olokan itu artinya saya benar-benar seperti yang mereka katakan. Dan sejak itu saya tutup telinga dengan semua olokan dari teman-teman dan tetangga saya. Dan olokan-olokan masih berlangsung sampai saya SMP.

Memasuki bangku SMA, saya gerah juga dengan omongan miring tentang diri saya. Maka sayapun memutuskan untuk introspeksi diri dan bertekad untuk merubah total semua julukan itu. Tidak tanggung-tanggung saya masuk organisasi pencinta alam, yang punya label negatif dari para guru dan siswa sebagai organisasinya para anak nakal alias begundal sekolahan. Dan ternyata, saya sanggup bertahan dari pendidikan dan latihan dasar untuk kemudian di kukuhkan menjadi anggota. Menjadi anggota pencinta alam merupakan suatu prestise tersendiri untuk saya, karena tidak semua teman-teman sanggup untuk melaui tes mental dan fisik dalam pendidikan menjadi anggota pencinta alam tersebut. Dan sejak itu, tidak ada lagi julukan banci yang melekat dalam diri saya. Kesibukan saya di organisasi menyebabkan saya sering tidak pulang ke rumah, mulai ketularan untuk bolos sekolah di tambah lagi pergaulan saya dengan teman-teman di organisasi yang notabene premannya sekolah membuat julukan begundal mampir dalam diri saya. Bahkan saya sempat di tuduh perusak anak orang, gara-gara saya mengajak adik kelas nonton bokep di rumah. Lah orang dia yang maksa ngajak nonton sampe memohon-mohon segala, saya kan ngga tega nolaknya.

Lain lagi saat saya memasuki masa-masa perkuliahan.Saat kuliah di D3, saya juga tercatat sebagai anggota senat mahasiswa divisi pelayanan mahasiswa. Dampaknya saya harus berbaur dengan seluruh teman-teman satu jurusan baik yang satu angkatan, kakak tingkat, adik tingkat juga rekan-rekan pengurus senat mahasiswa dari jurusan lain. Bisa di tebak, saya pun menjadi sosok yang familiar bagi mahasiswa mahasiswi di jurusan saya selain ketua senat tentunya. Tentu saja saya juga dekat dengan para mahasiswi yang cantik-cantik itu. Jalan bareng, nonton bareng dan nongkrong bareng teman-teman mahasiswi udah jadi rutinitas setiap minggunya.Karena seringnya saya berjalan dengan pasangan yang berganti-ganti, saya pun di gosipkan adalah seorang playboy. Parahnya lagi ternyata saya juga di gosipkan bispak alias bisa di pakai alias GGL (Gigolo Gitu Loh). Saya pun cuma bisa tersenyum miris.

Dan sekarang, dimana saya melanjutkan kuliah di Palembang. Saya nyaris tidak punya teman-teman perempuan. Saya punya teman-teman karib yang kesemuanya adalah laki-laki. Begitu akrabnya, sampai mereka sering menginap di rumah saya dan sebaliknya. Tetapi ternyata berteman dengan laki-laki juga tidak membuat kita luput dari gosip. Saya malah di gosipkan gay bersama teman-teman saya. Gosip baru mereda setelah saya menunjukkan pada teman-teman saya, bahwa kami masing-masing punya pacar.

Omongan orang memang ngga pernah ada habisnya. Kalau semuanya di masukin ke hati, mungkin tiap hari saya udah nampolin anak orang yang berkomentar miring tentang saya. Tapi faktanya, saya selalu tersenyum bila di gosipkan macam-macam. Artinya teman-teman begitu memperhatikan saya. Paling tidak begitulah yang ada di benak saya untuk menyenangkan diri sendiri. Lah kalau mereka ngga ngegosipin saya, artinya mereka kan ngga perhatian sama saya. Betul kan ?? Saya kan jadi bener-bener ngerasain gimana rasanya jadi selebritis yang di gosipin, walaupun itu hanya sekedar jadi selebritis kampus. Hahaha

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....