19 March 2005

Septika Sherliyani

Dia adalah mantan pacar saya ketika masih duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu kita sama-sama duduk di kelas yang sama. Yang saya suka dari dia adalah sifatnya yang perhatian, badannya yang mungil, kulitnya yang hitam manis, rambutnya yang panjang dan sering di kuncir dua, dan pembawaannya yang ceria. Kami berpacaran memang hanya 4 bulan, dan kemudian putus ketika naik kelas dan berbeda kelas. Sherley (begitulah dia di panggil) adalah salah satu di antara sekian banyaknya pacar saya yang tidak pernah saya cium baik itu pipinya, keningnya maupun bibirnya. Karena jujur saja, saat itu saya belum kenal yang begitu-begituan. Saya masih seorang goiq yang bau kencur dalam urusan percintaan. Untuk sekedar di ketahui, Sherley adalah pacar saya yang ketiga. Dan masih bisa di kategorikan sebagai cinta monyet.

Tapi ada satu peristiwa yang membuat saya mau tidak mau dan suka tidak suka harus selalu mengingatnya. Saat saya mengutarakan semua perasaan cinta di dalam hati saya padanya, dia tidak menjawabnya dengan kata-kata. Hanya sebuah senyuman yang dia berikan, tapi setelah itu kami jadi benar-benar dekat layaknya orang yang berpacaran. Saya berasumsi saat itu bahwa diam berarti setuju, dan asumsi saya saat itu juga di dukung oleh teman-teman saya dan teman-teman Sherley sendiri. Bahwa perasaan cinta tidak harus di ucapkan dengan kata-kata. Yang menjadi masalah adalah ketika saya akan memutuskannya, saat itu tanpa saya sangka dan tanpa saya duga Sherley berkata pada saya bahwa 4 bulan kebersamaan kami itu bukanlah hubungan percintaan. Itu dia perkuat dengan tidak adanya pernyataan cinta dan sayang yang keluar dari bibirnya selama 4 bulan kebersamaan kami itu. Woow, untuk pertama kalinya saya sangat terkejut dengan sikapnya. Tapi saya pikir, bukankah suatu hal yang bagus jika dia tidak pernah menganggap kami berpacaran. Saya malah berpikir dia akan menangis meraung-raung meminta saya jangan memutuskannya. Hahahaha.

Setelah itu hubungan kami menjelma menjadi suatu hubungan persahabatan. Sifatnya yang perhatian itu masih di tunjukkan kepada saya bahkan hingga saat ini. Setelah kami lulus dan kemudian saya pindah ke Jakarta, kami masih rajin berkirim surat. Tapi setelah saya beberapa kali pindah tempat kos, saya mulai malas membalas suratnya. Lagipula berkirim surat hanya menghabiskan uang bulanan saya yang memang sedikit itu. Tetapi Sherley tidak pernah absen mengirimkan kartu ucapan Selamat Idul Fitri dan kartu ucapan Selamat Ulang Tahun yang dia kirimkan kepada saya. Saat saya liburan ke Palembang pun kami sempat beberapa kali bertemu. Dia bahkan masih ingat bahwa saya sangat suka sama ayam. Dia memberikan kado patung ayam jago yang masih saya simpan sampai sekarang. Sherley memang perhatian, saya benar-benar tersanjung dengan semua perhatian-perhatiannya. Dia tidak pernah lupa mengabari saya tentang apapun juga.

Hingga tadi pagi saya di bangunkan ayah dari tidur karena ada telepon. Ternyata adiknya Sherley yang menelpon saya. Dia memberi sebuah kabar duka yang sangat mengejutkan, bahwa kemarin Sherley telah berpulang ke Rahmatullah karena gagal ginjal. Saya hanya terpana dan kemudian melafazkan Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Bahkan dia tidak lupa untuk mengabari saya tentang kepergiannya. Sher, saya benar-benar kehilangan seorang sahabat seperti kamu. Saya akan sangat kehilangan perhatian-perhatian dari kamu. Selamat jalan Sher, semoga kamu mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT. Amien

Nb : Dalam dua bulan terakhir ini saya sudah kehilangan dua orang teman sekelas saya di bangku kelas 2.11 SMA Negeri 3 Palembang, saya baru mengetahui kalau sahabat saya yang juga sahabat Sherley yang bernama Haruman Lega Kesuma juga telah mendahului kita semua. Sekali lagi saya melafazkan Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Semoga kalian berdua mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Amien

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....