07 April 2005

Menunggu Memang Menyebalkan

Saat ini saya sedang menunggu hasil tes saya di salah satu perusahaan multi finance. Saya sudah melalui beberapa tahapan tes, termasuklah di dalamnya psiko tes. Saingan pun sudah hanya tinggal seorang lagi. Jika di terima, artinya saya sudah tidak berstatus pengangguran lagi. Artinya saya sudah memiliki penghasilan sendiri, tidak tergantung pada orang tua lagi, bisa membiayai kuliah saya sendiri, bisa menabung, malah mungkin mulai merencanakan persiapan untuk pernikahan. Ahhh menyenangkan rasanya jika semua itu jadi kenyataan. Tetapi jika saya pikir benar-benar, ternyata semua tidaklah seindah yang saya bayangkan. Jika saya di terima bekerja, kuliah saya yang sudah memasuki tahap akhir otomatis pasti terganggu, artinya kemungkinan besar cita-cita saya meriah gelar Sarjana Ekonomi hampir pasti tertunda. Kenapa demikian ? Yang saya tahu dari teman saya yang bekerja di perusahaan tersebut, setiap hari dia harus pulang kantor jam 19.00 malam. Sementara jadwal kuliah saya mulai dari pukul 16.00 dan Pukul 18.30. Artinya semester ini di pastikan ada 2 mata kuliah yang di pastikan mengulang, karena saya tidak mungkin untuk izin pulang lebih awal setiap hari Selasa dan Jumat. Apalagi status saya yang pegawai baru, alangkah tidak etisnya bila terlalu sering izin.

Alasan yang kedua adalah perusahaan ini adalah perusahaan swasta asing yang memiliki banyak cabang di banyak propinsi dan kabupaten di Indonesia. Artinya ada kemungkinan saya akan di tempatkan di salah satu cabang-cabang mereka di luar kota. Jujur, saya tidak siap bila harus di tempatkan di luar kota. Bukannya saya manja, tetapi dahulu salah satu alasan saya pulang kembali ke Palembang adalah untuk menjaga kedua orang tua saya. Saya tidak akan merasa nyaman bekerja bila harus meninggalkan kedua orang tua saya. Kalau untuk sehari dua hari mungkin tidak jadi masalah. Lah kalau saya harus sampe pake acara kost-kostan lagi, saya ngga sanggup. Makanya saya bingung berat menunggu hasil tes kali ini. Dan yang membuat saya bingung justru kalau di terima. Kalau di tolak sih paling saya cuma bakal bilang, "ah... masih banyak perusahaan lain". Lain cerita kalau saya di tempatkan di dalam kota. Huhuhu... kalo itu sih susah untuk di tolak. Huahuahua.. Dan saya pun cuma bisa berkata dalam hati , " selamat berdebar-debar Iq"

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....