28 July 2005

Anak Mami...

Pernahkah kalian mendapat julukan anak mami hanya karena kalian sering bertemu dengan teman-teman baik itu di jalan, di mall, di pasar, atau di tempat-tempat ramai lainnya saat sedang bersama ibu kalian ?? Begitu malunya akan julukan anak mami itu hingga mencium kening dan pipi ibu kita sendiri atau memijat tangan dan kakinya pun kita merasa malu ?? Saya rasa tidak sedikit orang yang mengalaminya... Dan alhamdulillah, saya selalu mengabaikan celoteh orang-orang yang menjuluki saya anak mami. Saya cukup berbahagia punya emak yang bisa saya ajak jalan, membantu saya memilihkan baju-baju atau menemani beliau belanja keperluan bulanan rumah meskipun saya adalah seorang lelaki. Saya menganggap orang-orang tersebut sirik melihat betapa akrabnya hubungan saya dengan emak saya, sementara mereka pribadi tidak bisa merasakan kehangatan seperti itu. Hahahaha...

Sebenarnya jika kita menelaah lebih dalam, apa sih yang salah jika seorang pria yang mulai beranjak dewasa atau katakanlah pria dewasa menemani ibu mereka jalan atau berbelanja ?? Saya rasa tidak ada yang salah. Teman saya pernah bertanya kepada saya apakah saya tidak malu berjalan dengan ibu saya di tengah keramaian dan bertemu dengan teman-teman lainnya ?? Saya hanya berkata dengan bijak kepada teman saya.. Kenapa harus malu berjalan dengan orang yang sudah bersusah payah mengandung kita selama 9 bulan, dimana dalam 9 bulan itu ibu harus merasakan tidak enaknya mual-mual dan muntah-muntah saat ngidam atau betapa tidak nyamannya saat perutnya mulai membesar. Hingga perjuangan hidup mati saat akan melahirkan kita. Dan saat kita lahir ibu dengan sukacita menyambut kita walaupun beliau tahu itu bukanlah akhir dari perjuangan selama 9 bulan mengandung. Ibu harus rela jam tidurnya terganggu oleh tangisan kita di malam hari entah kita lapar atau buang air. Atau betapa cemasnya beliau saat kita sakit hingga badan sendiri pun tidak sempat di urus. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kita. Lalu kini setelah kita merasa cukup mampu untuk melakukan apa-apa sendiri, dengan pongahnya kita berkata malu untuk sekedar menemani beliau jalan-jalan, atau sekedar mencium kening dan memijat tangan dan kaki tuanya... Astaghfirullah...

Tahukah kalian ?? Di usia senjanya, ibu tidak pernah berhenti berdoa setiap hari untuk kebahagiaan anak-anaknya. Beliau selalu memohonkan agar kita di berikan kebahagiaan dan di jauhkan dari segala musibah. Ibu tetap ingin yang terbaik untuk anak-anaknya meskipun tangan dan kaki tuanya sudah tidak bisa melakukan apa-apa untuk membahagiakan kita. Ibu juga tidak pernah meminta kita untuk membalas apa yang sudah beliau berikan pada kita. Untuk kalian yang pernah merasa malu, saya hanya ingin mengingatkan... Datanglah pada ibu kalian, cium tangannya dan minta maaflah kepada beliau. Percayalah... Pintu maaf seorang ibu selalu terbuka untuk anak-anaknya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....