19 August 2005

Untuk Pria Yang Paling Saya Cintai...

Image hosted by Photobucket.com

Hari ini tepat 59 tahun silam dia di lahirkan. Karena lahir satu tahun lebih dua hari setelah Negara kita merdeka, dia di beri nama Muhammad Merdeka oleh kedua orang tuanya. Saya tidak tahu banyak tentang cerita masa kecil dan masa remajanya, karena dia bukan orang yang suka berbagi cerita. Pembawaan seriusnya saya tahu pasti dia dapatkan dari ayahandanya yang seorang perwira. Saya pernah mendengar bahwa dia di gembleng sangat keras oleh ayahnya. Tidak suka bercanda, tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara berlebihan kepada orang lain, dan selalu menyimpan semua masalahnya sendiri. Dia juga punya prinsip yang sangat saya benci. Menurutnya tidak ada teman abadi di dunia ini karena yang ada hanya kepentingan abadi. Saya tahu pengalamanlah yang membentuk prinsipnya itu. Tetapi dia tidak akan pernah bisa menanamkan prinsipnya itu kepada saya. Dia orang yang sangat keras kepala dan tidak bisa di ajak kompromi. Di balik semua sifat kerasnya yang sejujurnya tidak terlalu saya suka itu, dia juga ternyata punya sifat nakal. Saya masih ingat bulan puasa dua tahun silam dia pernah mengajak saya batal bersama. Hahahaha. Dia bilang dia tahan tidak makan dan minum seharian, tetapi paling tidak tahan godaan merokok. Saya sendiri tidak pernah berani melarangnya merokok, bukan karena saya takut atau karena tidak sayang padanya. Saya pernah melihatnya hidup tanpa rokok, dan dia bagaikan mayat hidup yang tidak bergairah. Sejak itu saya tidak pernah melarangnya merokok.

Walaupun saya seringkali membuatnya marah besar dengan argument-argumen saya yang sama sekali tidak masuk akal dan pikirannya. Atau beberapa kali dia pernah memukul saya dengan tangannya, saya tidak pernah berpikir untuk melaporkannya ke komnas HAM. Karena saya tidak pernah sanggup membencinya dan karena dia satu-satunya pria yang mencintai ibu saya apa adanya. Tidak pernah terbersit di benaknya untuk membagi cinta dengan perempuan lain, meskipun saya tahu dia bisa saja melakukannya. Di dalam hatinya hanya terpatri nama ibu saya. Dan saya benar-benar kagum karenanya. Selain itu saya juga tahu di lubuk hatinya yang paling dalam dia mencintai saya dengan segenap jiwa dan raganya, hanya saja dia lebih suka menunjukkannya dengan omelan dan sindiran. Jika di tanya siapa yang paling sayang padanya di dunia ini, saya mungkin akan dengan bangga mengacungkan tangan. Dia adalah laki-laki yang paling saya cintai di muka bumi ini. Dia adalah Bapak Muhammad Merdeka... ayah saya.

Selamat ulang tahun yah, maafkan anakmu yang pada tahun ini kembali belum bisa memenuhi harapan-harapanmu... Saya berdoa selalu untuk kesehatanmu, dan jika Allah mengizinkan saya ingin ayah melihat saya bersanding di pelaminan dan menggendong cucu ayah kelak. Insya Allah...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....