06 October 2005

Cerita Batal Puasa

Saya mulai berpuasa pertama kali saat duduk di bangku kelas 2 SD, tetapi di puasa pertama itu saya sudah sanggup mengerjakannya satu hari penuh. Memang tidak sampai satu bulan penuh saya sanggup berpuasa seharian. Tapi paling tidak selama bulan Ramadhan saat itu tidak ada hari yang terlewati tanpa melakukan puasa. Saya masih ingat, walaupun tidak sanggup berpuasa penuh saya selalu menunggu sampai jam 1 siang untuk berbuka. Walaupun terkadang ibu memaksa saya untuk berbuka pukul 12, tetapi saya tetap ngotot untuk berbuka jam 1 siang karena saya ingin puasa saya lebih dari setengah hari. Sebagai imbalan atas puasa yang saya lakukan, ibu selalu membuat kue-kue dan minuman segar yang uenak rasanya pada saat kami berbuka. Dan ayah selalu berjanji akan membelikan baju baru dan uang tunai untuk setiap puasa yang saya lakukan satu hari penuh. Ini nih cikal bakal yang bikin si Goiq jadi makhluk matre. Hehehehe...

Kelas 3 SD saya sudah sanggup berpuasa sebulan penuh. Walaupun sangat berat, tetapi saya berhasil menjalankannya. Untuk ukuran anak usia 9 tahun yang paling suka berlari-lari dan melompat-lompat kesana-kesini tentu saja musuh terbesar saat puasa tiba adalah rasa haus. Apalagi ayah dan ibu selalu mengajarkan kepada kami bahwa puasa tidak boleh di jadikan alasan untuk bermalas-malasan sepanjang hari. Justru mereka menganjurkan kepada kami berempat untuk tetap beraktifitas seperti biasanya meskipun kadarnya yang sedikit di kurangi agar tidak terlalu menguras energi. Oh ya sedikit catatan, sehabis bedug Subuh berkumandang saya dan saudara-saudara yang lain biasanya jogging keliling kota bersama-sama sampai jam 6 lewat. Hal ini sudah menjadi tradisi bertahun-tahun di kota Palembang dimana semua orang berkumpul beramai-ramai di bundaran Mesjid Agung. Hal itu benar-benar kami lakukan satu bulan penuh selama Ramadhan berlangsung. Tetapi meskipun begitu banyak aktifitas yang di jalani, saya tidak pernah berusaha mencuri-curi untuk minum saat puasa. Kalaupun kerongkongan sudah benar-benar kering, paling-paling saya berusaha untuk tidur. Dan puasa 100% itu terus bertahan sampai saya kelas 2 SMP.

Karena NEM saya yang bagus saat lulus SD, ayah menyekolahkan saya di SMP yang mayoritas siswanya non muslim. Sekolah itu terkenal karena metode pendidikannya yang bagus dan disiplinnya yang sangat ketat di bandingkan dengan sekolah negeri. Tiap kelasnya mungkin hanya ada 3 sampai 4 orang siswa yang muslim dari 50 siswa perkelasnya. Teman-teman yang non muslim sangat menghormati kami yang sedang berpuasa saat ramadhan tiba. Meskipun pelajaran olahraga tetap di adakan saat Ramadhan, tetapi kita-kita yang berpuasa mendapat dispensasi untuk tidak mengikutinya. Tetapi di kelas 2 SMP, saya dan teman-teman yang muslim nekat untuk tetap mengikuti kegiatan olahraga. Maklum bawaan hormon yang sedang meledak-ledak. Semua merasa paling kuat dan paling jago. Dan akhirnya kami benar-benar tidak kuat untuk meneruskan puasa karena rasa haus yang teramat sangat. Kami pun memutuskan untuk batal bersama di kantin. Banggakah saya ?? Huhuhu. Malu sih iya, belum lagi perasaan menyesal yang teramat sangat. Trus ?? Karena saat itu saya sudah kenal dengan kata bohong, yah berbohong itulah satu-satunya jalan keluar. Pulang ke rumah tetep pura-pura masih puasa. Hahahaha. Dasar badung !!!

Tapi bagusnya saya tetap tidak membiasakan diri untuk seenaknya membatalkan puasa. Buktinya setelah kejadian di kelas 2 SMP itu, puasa saya kembali menyentuh rekor 100%. Bahkan di bangku SMA dimana rintangan-rintangan yang saya alami memang lumayan berat mulai dari ajakan-ajakan sesat seperti ajakan batal bersama di kantin, ajakan nonton bokep massal, ajakan ngedate bareng pacar, bahkan tidak sedikit yang ngajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan dengan seenak udelnya makan empek-empek di pinggir jalan serta dengan begitu tidak tahu malunya menawari saya ikutan makan, sampe yang sifatnya benar-benar tidak disengaja seperti ngga sengaja minum (itu mah rejeki), ngga sengaja liat gambar bokep di kamar temen, atau ngga sengaja liat orang cipokan sambil grepe-grepe di TV luar negeri, semua tidak sampai mempengaruhi puasa saya. Yang jelas rasa haus bukan lagi musuh utama saya dalam menjalankan ibadah puasa saat di bangku SMA. Musuh utama saya saat itu justru teman-teman yang menyesatkan. Sampe sempat berpikir dalam hati, kok punya teman ada tanduknya semua seh ???

Selama rentan waktu 5 tahun di Jakarta, hanya pada dua tahun pertama saja puasa saya bisa mencapai 100%. Selebihnya, bisa di pastikan batal satu hari. Dan batalnya puasa saya bukan karena padatnya aktifitas saya di kampus, tetapi selalu pada saat dalam perjalanan mudik lebaran. Sedikit catatan, selama 5 tahun merantau di Jakarta saya selalu mudik menggunakan transportasi umum seperti bus atau kereta.Waktu itu mana ada tiket pesawat murah menuju ke Palembang seperti sekarang dimana harga tiket pesawat termurah ada yang Rp.150.000 dan yang lainnya berkisar 200 sampai 300 ribuan, dulu semuanya di atas setengah jeti. Dan menempuh perjalanan jauh itu ternyata cukup berpengaruh terhadap puasa saya. Saat saya memutusakan kembali ke kota Palembang tahun 2003 lalu, ternyata lagi-lagi tetap tidak bisa berpuasa satu bulan penuh. Dua tahun lalu itu saya sakit sampai tidak bisa bangun dari tenpat tidur selama 3 hari. Dan selama itulah saya juga tidak bisa menjalankan kewajiban saya. Jangan di kira kalau saya tidak berpuasa trus saya bisa makan sepuasnya seenak udel. Orang lagi sakit mana nafsu makan. Hehehehe. Dan tahun lalu lagi-lagi puasa saya jebol sehari karena manajemen waktu yang tidak baik. Memaksakan diri terlalu sibuk dengan aktifitas sosial di bulan ramadhan, dan ternyata harus mengorbankan satu hari puasa saya.

Kalau di hitung-hitung sudah 5 tahun terakhir ini puasa saya jebol terus. Arrgghhhhh. Saya cerita begini bukan untuk bangga-banggaan. Sebenernya justru malu banget cerita soal ini. Nanti di kira mencari pembenaran atas kesalahan yang saya lakukan sendiri. Padahal sebenarnya hanya untuk sekedar bahan perenungan diri semata. Umur sudah 25 tahun tapi kok puasanya kalah terus. Hehehe. Saya juga berharap puasa Ramadhan tahun ini banyak yang bisa saya dapatkan daripada hanya sekedar menahan rasa lapar, haus serta hawa nafsu semata. Insya Allah...

Nb : Bagi yang merasa terganggu dengan misscall saya pagi-pagi buta, saya minta maaf dan silahkan komplain disini. Hehehehe. Membangunkan orang sahur itu juga ibadah loh. Saya kan tidak mungkin datang ke rumah teman-teman semua satu persatu untuk membangunkan kalian. Jadi saya hanya bisa membangunkan lewat misscall di hape kalian masing-masing. Mumpung hape saya masih ada pulsa. Hehehehe. Buat yang pengen di bangunkan juga via misscall mesra di pagi hari, silahkan tinggalkan no hape. Layanan ini gratis alias tidak di pungut biaya satu rupiah pun loh dan juga tidak perlu di bales via sms *promosi mode on*.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....