23 February 2005

Pisah Ranjang Ala Ayah Dan Ibu Saya

Kali ini ibu saya sudah tidak pulang ke Palembang satu bulan lebih, artinya sudah satu bulan lebih pula ayah dan ibu saya pisah ranjang. Dan tampaknya mereka menikmati kesendirian mereka masing-masing sebagai de lajangs. Ibu saya tampaknya asyik-asyik saja dengan bisnis dan kegiatan belanjanya di Jakarta sana, sedangkan ayah saya juga tampak menikmati kehidupannya dengan teman-temannya, mulai dari teman yang alim, duda keren, sampai si playboy bau tanah. Dan kegiatan ayah saya bersama para teman-temannya itu juga beragam. Ketika bersama temannya yang alim, maka ayah saya bisa di pastikan pergi ke acara pengajian atau ceramah agama, jika bersama si duda keren maka kegiatannya sudah pasti kumpul di rumah ngobrol-ngobrol sampai larut malam, sedangkan bila bersama si playboy bau tanah, maka ayah saya bisa di pastikan pergi ke tempat yang rada nyeleneh, seperti kemarin saya melihat karcis parkir Palembang Square dan nota pijat refleksi di dalam mobil. Padahal kalau ibu saya ada di rumah, ayah nyaris tidak pernah bepergian ke tempat itu. Kalau badannya pegal pun paling-paling ayah memanggil tukang urut langganan dan pijat di rumah. Tapi saya tidak pernah mengkhawatirkan ayah saya, saya mengenali ayah saya seumur hidup. Ayah bukan tipikal laki-laki penyeleweng. Bahkan dari dulu ayah selalu jujur pada ibu saya jika ada perempuan-perempuan yang menggodanya.

Sebenernarnya tidak ada yang saya khawatirkan dari kedua orang tua saya saat ini. Mereka sudah terbiasa pisah ranjang selama ini. Cuma saya rada kurang suka dengan omongan teman-teman saya. Mereka bilang tidak sepatutnya seorang istri berpisah lama-lama dengan suaminya. Kalau tidak keduanya, pasti salah satu akan tergoda nantinya. Dan setiap kali mereka melontarkan pernyataan itu, saya balik melontarkan guyon kalau orang tua saya udah mo sidang gugatan cerai *sungkem sama ayah dan ibu* . Kalau dari saya pribadi memang jelas ada yang kurang kalau ibu tidak berada di rumah. Tidak ada yang cerewet sama saya, tidak ada yang harus saya temani kalau ibu mau belanja, tidak ada yang saya pamiti kalau saya akan pergi keluar rumah, tidak ada tips harian dari ibu, tidak ada yang menyuruh saya beli lauk kalau ibu malas masak, atau tidak ada acara makan-makan di luar bersama. Bu, cepat pulang. Anakmu kangen nich...