02 January 2006

Wakil Rakyat Yang Tidak Merakyat

Mungkin teman-teman yang tinggal di Jakarta sudah tahu kalau saat ini di halaman gedung MPR/DPR tengah di bangun sebuah pagar besar yang konon kabarnya bernilai 3 milyar rupiah. Sebuah nominal yang sangat besar dan menurut hemat saya hanya merupakan sebuah pemborosan belaka. Pagar itu di bangun dengan ketinggian yang cukup lumayan dan di maksudkan untuk mencegah aksi para demonstran untuk masuk ke gedung rakyat itu. Mau tahu bahasa simpelnya ??? Para wakil rakyat membangun sebuah jarak / dinding pemisah yang membedakan mereka dari para rakyat kebanyakan.

Mereka mengaku sebagai wakil rakyat, tetapi enggan hidup merakyat. Mereka bangga dengan sebutan wakil rakyat, tapi menghadapi para demonstran yang notabene juga rakyat mereka takut. Mereka hidup dari uang rakyat, tetapi lebih memikirkan kesejahteraan sendiri daripada kesejahteraan rakyat yang sudah memilih mereka untuk duduk di gedung rakyat.

Memang tidak adil menyamaratakan semua wakil rakyat seperti itu. Tetapi saya yakin yang benar-benar konsisten memikirkan soal rakyat jumlahnya sangat kecil sekali. Selebihnya benar-benar memanfaatkan status wakil rakyatnya untuk kesejahteraannya sendiri. Di pagarinya gedung rakyat menurut saya menunjukkan memudarnya demokrasi di Indonesia. Gedung rakyat yang seharusnya tempat dimana rakyat beraspirasi dan menjadi milik rakyat kini semakin terasa bahwa gedung itu memang hanya milik orang-orang yang berada di dalamnya. Hapus saja slogan dari rakyat untuk rakyat ke rakyat dan kita ganti dengan slogan dari partai untuk ke kader ke partai !!!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....