27 February 2006

Anak Itu Milik Siapa ??

Lagi-lagi untuk kesekian kalinya saya membahas tentang anak. Apa lagi kali ini ?? Ceritanya saat sedang makan siang di sebuah cafe bersama teman-teman saya, televisi di cafe tersebut tengah menayangkan acara infotainment. Di situ di beritakan tentang seorang artis wanita terkenal yg menyembunyikan keberadaan sang anak dari ayah kandungnya. Berbagai cara di tempuh si artis agar mantan suaminya tidak dapat menemukan jejak anaknya. Saat itu kami ber empat yang semuanya laki-laki langsung membicarakan masalah itu. Sebuah pertanyaan bagus langsung di lemparkan seorang teman kepada saya. Sebenarnya jika sepasang suami istri memutuskan untuk bercerai, siapa yang lebih berhak atas pengasuhan sang anak ? Meskipun saya belum menikah dan tidak punya pengalaman sama sekali dalam proses pengasuhan seorang anak. Tetapi saya mencoba menelaah dengan bijak pertanyaan teman saya yang terlihat simpel tetapi sebenarnya sangat rumit untuk di jawab.

Para wanita selama ini lebih banyak mengklaim bahwa seorang anak adalah hal milik mereka jika terjadi perceraian dalam rumah tangga. Mereka menilai bahwa sebagai seorang ibu yang mengandung dan berkorban nyawa saat melahirkan sang anak, mereka memiliki kedekatan batin dengan anak-anak mereka. Selain itu mereka juga mengklaim bahwa seorang ibu lebih bisa mengurus, menyayangi dan mencurahkan waktunya kepada anak daripada seorang ayah yang hari-harinya lebih banyak di habiskan di tempat bekerja. Memang jika di pikirkan sepintas, hal tersebut sangatlah masuk akal. Tidak heran di Indonesia ini jika terjadi perceraian dalam sebuah rumah tangga, kebanyakan hak asuh anak di serahkan kepada sang ibu. Dan si ayah boleh mengunjungi anaknya pada waktu-waktu yang telah di tentukan. Menurut saya hal itu sangatlah ironis. Bagaimana mungkin seorang ayah di batasi untuk bertemu dengan anaknya sendiri ? Bukankah seorang anak itu berhak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibunya tanpa batas ? Kebanyakan para ibu sangat takut jika harus berpisah atau kehilangan hak asuh anaknya. Mereka menganggap itu sama saja dengan kiamat kecil.

Tetapi tidakkah para wanita juga berpikir bahwa sebenarnya seorang ayah juga sama takutnya jika harus berpisah atau kehilangan hak asuh anak-anaknya? Ketika sang istri mengandung, kebahagiaan sang suami sama besarnya dengan sang istri. Ketika sang istri mengalami masa-masa ngidam, sang suami akan bersusah payah memenuhi keinginan sang istri meskipun apa yang di minta terkadang sulit untuk di penuhi. Sang suami mewanti-wanti sang istri agar tidak bekerja terlalu berat, memijat tangan dan kaki sang istri yang pegal-pegal karena mengandung, membelai perut sang istri yang membuncit lalu berbicara pada calon anak mereka yang berada di dalam rahim sang istri. Di samping bekerja lebih keras untuk persiapan kelahiran sang anak nantinya. Juga memberikan kekuatan moril pada sang istri menjelang detik-detik lahirnya buah cinta mereka. Sang suami juga rela bangun tengah malam untuk mengganti popok sang anak ataupun sekedar menemani sang istri menyusui anak mereka meskipun besok paginya dia harus bangun pagi-pagi untuk berangkat bekerja. Semua di lakukan dengan ikhlas. Adalah hal yang sangat wajar bukan, jika seorang ayah takut kehilangan anak-anaknya ??

Kembali kepada masalah hak. Anak-anak sebenarnya adalah karunia dari Sang Maha Pencipta yang di titipkan pada ayah dan ibu mereka. Kerja sama merekalah yang mengakibatkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga. Tidak akan ada anak yang lahir di dunia jika tidak ada benih seorang pria yang membuahi sel telur dalam rahim wanita dan sebaliknya. Meskipun begitu seorang anak tetaplah bukan hak dari ayah dan ibu nya. Ayah dan ibu hanya memegang amanat dari Yang Maha Kuasa untuk membesarkan dan mendidik anaknya menjadi manusia yang sesungguhnya. Karena itulah si anak sangat membutuhkan ayah dan ibu mereka. Jika memang rumah tangga itu tidak dapat di pertahankan lagi, bukankah si anak masih bisa di asuh secara bersama-sama. Jadi perceraian tidak membuat sang anak kehilangan figur ayah ataupun ibunya. Di dunia ini ada istilah mantan suami atau mantan istri, tetapi anak tetaplah seorang anak hingga akhir hayat kita kelak.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....