22 September 2006

Sepenggal Cerita Pendakian

Photobucket - Video and Image Hosting
Kawah Dempo

Dan tak kala ku langkahkan kaki dipintu rimba Gunung Dempo, ku tersadar bahwa ragaku tak bersamamu. Langkah demi langkah yang ku tempuh tak satupun yang kulalui tanpa memikirkannmu. Yeah, meskipun ragaku sedang berbanjir peluh menaklukkan keangkuhan Dempo, tetapi jiwaku berkelana nun jauh disana menemanimu yang sedang gulana menantiku. Apakah kamu tahu itu ?? Aku sanksi... tetapi membayangkan bahwa kamu sedang memikirkan aku, bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Rinai hujan membuyarkan lamunanku, memaksaku dan teman-teman untuk berhenti sejenak guna menghindari hal-hal yang tidak kami harapkan. Bivak pun berdiri dalam waktu singkat untuk melindungi tubuh kami dari serangan hujan dan hawa dingin yang merasuk tulang. Sembari mereguk segelas kopi panas, kembali ku lanjutkan petualangan imajinasiku untuk menemuimu di sana. Aku selalu ingat bahwa selama pendakian aku tidak boleh melamun, tetapi entah mengapa aku selalu berkilah di katakan melamun. Aku sedang tidak melamun !!! Jika dikatakan sedang melamun tentunya aku tidak akan mengingat langkah demi langkah yang telah kulewati bersama team ku sedari pintu rimba tadi. Bahkan aku juga bisa mengingat dengan pasti kata-kata dan gelak canda yang sedari tadi terlontar dari bibir rekan-rekan satu teamku itu. Aku memang sedang tidak melamun, hanya sekedar memikirkanmu meskipun aku melakukannya sepanjang langkahku.

Sejujurnya inilah pendakian terberat yang pernah aku rasakan diantara pendakian-pendakian ku sebelumnya. Selain punya misi khusus yang yang ku emban dalam pendakian kali ini, cuaca yang teramat sangat tidak bersahabat, terkadang gerimis disertai pekatnya kabut memaksa kami menghentikan langkah menuju puncak keangkuhan Dempo.. Hingga tiba di shelter 2, kami benar-benar tak mampu untuk meneruskan langkah. Hujan deras yang disertai angin kencang dan kabut sudah membuat kami kehilangan kemampuan navigasi. Kami sepakat bermalam di Shelter 2 sembari menunggu cuaca sedikit lebih bersahabat. Perbekalan pun mulai dibuka. Yeah... cuaca sedingin ini membuat cacing-cacing diperut kami be acapela ria. Aroma parafin yang tersulut api pun meyergap isi tenda doome tempat kami berteduh. Tak lama setelahnya terciumlah aroma ikan sardin dan mie rebus yang di lengkapi dengan bau hangat nasi pulen. Hmmm... Dan dalam sekejap pula, bertebaran piring-piring kotor disertai suara-suara kekenyangan dari rekan-rekan satu team ku. Sembari menunggu, beberapa rekan berinisiatif mencari kegiatan pengusir jenuh. Main kartu salah satunya. Sementara beberapa yang lainnya memutuskan untuk melepas kepenatan dengan menyambangi alam mimpi. Aku sendiri tidak tertarik untuk bergabung dalam keriuhan rekan-rekan yang sedang bermain maupun rekan-rekan yang mulai terlelap dalam alam bawah sadar.

Aku ingin bersamamu lagi... Meskipun itu hanyalah sekedar permainan imajinasiku. Bersamamu membuat dinginnya udara Dempo tak lagi kurasa. Setidaknya kamu menghangatkan nuansa hatiku. Sekejap mata anganku berkelana mencarimu. Menembus derasnya hujan dan pekatnya kabut Dempo. Tapi rupanya raga ini terlalu letih. Dan aku pun terbuai dalam alunan kidung gemercik hujan. Lelap.... Pukul 4 pagi itu, alam mulai bersahabat kepada kami. Hujan dan kabut tampaknya sudah lelah berkolaborasi untuk menghadang langkah kami. Meskipun hawa dingin benar-benar membangkitkan rasa malas untuk melanjutkan pendakian, tetapi kami sadar ini saat yang sangat tepat untuk bergerak. Langkah kami pun kembali beriring menyusuri jalur cadas. Jalan yang licin karena hujan semalaman tidak menyurutkan langkah kami yang terus meninggalkan jejak di atas tanahnya. Hingga akhirnya kami tiba di ketinggian 3159 meter di atas permukaan laut. Yeaaahh... Puncak pertama tlah kami lalui. Semua rasa lelah yang menyergap seakan menguap dari tubuh kami. Beberapa rekan mulai mengabadikan moment ini ke dalam kamera masing-masing. Sementara aku kembali memikirkanmu. Apa kau merasakan pikiranku yang berusaha menggapaimu sayang ??

Setelah puas mengabadikan moment di Puncak, kami pun turun menuju Lembah Dempo. Hamparan hutan kayu panjang umur menyambut kedatangan kami dengan kebisuannya. Kami pun kembali mendirikan tenda karena kami memang akan kembali bermalam dilembah. Setelahnya, kami pun bergegas menuju puncak merapi dimana Kawah Dempo berada. Melihat kawah yang berwarna hijau lumut, hatiku terasa sangat damai. Apalagi melihat rona kemerahan di ufuk timur. Hangatnya mentari pagi menghangatkan jiwaku yang beku. Seorang rekan dengan lantang melafazkan adzan. Ahhh... aku sudah setinggi ini. Berapa jauh lagi aku bisa menggapaimu ?? Bergetar bibirku memanggil namamu. Tidakkah kau melihat perjuanganku kembali ke Dempo untuk menaklukkan keangkuhan dan kebekuannya ?? Tahukah kau aku melakukan semua ini untukmu ?? Demi mewujudkan anganmu untuk mendaki Dempo bersamaku. Lihat aku sayang. Aku datang untukmu. Untuk memenuhi janji yang pernah kita buat sebelum kau pergi. Karena aku tahu kamu ada diatas sana. Turunlah dan temani aku disini. Aku ingin lebih dekat denganmu... Meskipun aku sadar sepenuhnya, kamu tetap tak akan pernah bisa kujamah....

Berhubung ramadhan tinggal menunggu hari, Goiq mo minta maaf terlebih dahulu sama teman-teman blogger semua kalo selama ini Goiq ada salah-salah kata dan perbuatan yang kurang berkenan di hati teman-teman semua. Mari kita Sambut ramadhan dengan hati yang riang dan jiwa yang bersih... Marhaban Ya Ramadhan

Ket : Foto Di ambil dari sini

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....