26 July 2009

Ibu Penjual Rokok Di Depan SD

Tahun 1986 - 1992 adalah masa dimana saya menghabiskan waktu belajar dibangku Sekolah Dasar. Banyak sekali kisah yang terjadi dibangku SD dan nyaris semuanya adalah cerita indah... Salah satu kebiasaan yang saya ingat adalah membeli permen di warung yang lokasinya berada disebrang jalan SD saya. Memang tidak setiap hari saya membeli permen disana, tapi dalam satu minggu pasti saya selalu menyempatkan diri membeli permen kojek, permen benson, atau permen karet. Sempat terlintas sebuah pertanyaan dibenak saya saat itu. Kenapa selalu ibu itu yang menjaga warungnya. Dan kemana si bapak ? Tapi pertanyaan saya itu tidak pernah mendapatkan jawabannya sampai detik ini. Dan saya selalu menjadi langganan setia ibu itu sampai saya lulus SD. Setelah tamat SD, saya tidak pernah lagi membeli permen di warung ibu itu meskipun saya masih sering melintasi warung tersebut...

Hingga akhirnya malam ini, entah angin apa yang mendorong saya untuk menghentikan laju mobil yang saya bawa di warung tersebut. Warung itu masih sama seperti dulu, dan ternyata yang menjual pun masih sang ibu yang dulu. Saya masih sangat mengenalinya, meskipun keriput sudah menghiasi wajah dan tangannya. Ditambah lagi uban yang yang terlihat menyembul dibalik jilbabnya yang lusuh. Ibu itu tengah tertidur dalam kondisi duduk di sudut warungnya yang sempit. Ahhh... iba sekali hati saya melihatnya. Waktu terus berlalu, dan ibu itu masih setia menunggu warungnya. Dan pertanyaan masa kecil saya pun muncul kembali. Kemana si bapak ? Niat saya untuk membeli sebungkus rokok Marlboro pun akhirnya berubah menjadi 5 bungkus. Dan saya juga membeli obat nyamuk, baterai, obat masuk angin dan balsem yang tadinya sama sekali tidak saya rencanakan untuk dibeli.Ibu itu terlihat senang. Senyum di bibir tuanya merekah. Dan sayapun berlalu dari warungnya...

Kata orang kehidupan itu bagaikan roda. Kadang diatas dan kadang dibawah, tapi kenapa roda kehidupan si ibu tidak juga bergerak naik ? Saya jelas tidak bisa mengatakan bahwa kehidupan ibu itu tidak bahagia. Karena saya tidak tahu seperti apa hidupnya. Tapi sedih rasanya melihat ibu itu harus menunggu warungnya melewati dinginnya udara malam. Mestinya si ibu sudah tidur di kasur hangatnya, bukan tidur disudut warungnya yang sempit karena terlalu lelah menanti pembeli.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih....