31 October 2011

Untuk Seorang Sahabat

Dear sahabatku,

Hampir 3 tahun saya menjadi sahabatmu, mulai dari kita sama-sama bekerja di profesi yang sama hingga kemudian tidak lagi satu profesi, tapi kita tetap bersahabat. Saya selalu memantau kabarmu meskipun hanya lewat status-status mu di social media. Berbeda kota tidak menjadikan persahabatan kita menjadi garing. Malah semakin akrab dan penuh warna. Beberapa kali saya singgah ke kotamu baik dalam rangka pekerjaan maupun sekedar liburan. Kamu mengajak saya menjamah kotamu yang sama sekali belum pernah saya pijak. Saya selalu bercerita, mengeluh atau berbagi apapun yang bisa saya bagi dengan kamu. Karena kamu sahabat saya...

Hingga akhirnya hari ini, saya bertanya kepadamu tentang sebuah kabar tanpa bermaksud apapun dibalik pertanyaan saya. Sekedar kepedulian seorang sahabat. Dan kamu begitu emosi karenanya. Meskipun kamu mengatakan kamu tidak marah, tapi kalimat-kalimatmu via BBM menggambarkan kemarahan itu. Saya mencoba menjelaskan kenapa saya bertanya, tapi emosimu tampaknya begitu memenuhi setiap rongga syarafmu. Hingga akhirnya kamu mengatakan bahwa persahabatan diantara kita cukup sekian saja.

Rasa bersalah saya karena hal ini membuat saya menerimanya. Jika hanya dengan mengakhiri persahabatan bisa membuat kamu dapat memaafkan saya, maka saya terima. Tapi kamu harus tahu, bahwa tidak ada sedikitpun niat saya untuk membuat kamu marah. Meskipun kamu merasa tidak lagi bersahabat dengan saya, tapi sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi sahabat saya. Sekali lagi saya mohon maaf untuk sebuah pertanyaan ini.


Regards


Sahabatmu

3 comments:

  1. jadi sedih...
    kok jadi gitu sih ya?
    *puk puk kak goiq*

    sahabat akan terus ada kak, paling tidak dihati dan ingatan satu sama lain :)

    ReplyDelete
  2. huks,
    jd ikutan sedih..

    sabar ya kk.
    mungkin masih esmosi sajo.
    ntar kl udah reda biasanya baik sendiri ^^

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Terima kasih....