15 October 2011

Wejangan



Ketika saya mulai memasuki usia remaja dan mulai mengenal istilah bergaul, ayah saya banyak selali memberikan wejangan-wejangan seputar dunia persahabatan. Biasanya saya selalu terima wejangan itu bulat-bulat kalau memang itu masuk diakal saya atau memang berguna untuk kehidupan saya. Tapi diantara banyak wejangan tersebut, ada 2 wejangan yang selalu saya bantah.

1. Musuh terbesarmu bisa jadi adalah orang yang merangkul pundakmu dan menyebut diri mereka sebagai sahabat.

2. Tidak ada sahabat sejati didunia ini, yang ada hanya kepentingan abadi.


Saya selalu membantah dua wejangan itu. Karena saya mengenal sahabat-sahabat saya. Mereka berteman dengan saya karena saya, dan bukan karena anak siapa saya. Bukan karena rumah saya yang besar, bukan karena fasilitas yang diberikan oleh orang tua saya. Selama 30 tahun hidup saya, sahabat-sahabat saya selalu ada disisi saya seburuk apapun kondisi saya. Dan ketika tahun lalu saya mulai bekerja di Jakarta, bergaul dengan dunia yang sama sekali berbeda dengan pergaulan saya di Palembang. Saya baru mulai menyadari bahwa dua wejangan ayah yang selalu saya bantah ternyata ada benarnya, meskipun tidak semuanya benar. Saya bertemu dengan beberapa orang yang bangga merangkul saya sebagai sahabat, tetapi dibelakang saya dia menjelek-jelekkan saya atau kantor tempat saya bekerja. Ada pula musuh dalam selimut yang selalu memasang wajah polos tanpa dosa tapi ternyata adalah seorang penjilat nomor wahid. Ada pula yang memanfaatkan kebaikan saya untuk mengumpulkan informasi seputar pekerjaan yang saya geluti saat ini.

Mata saya akhirnya terbuka, bahwa tidak semua orang bisa saya jadikan sahabat dan tidak semua orang pantas menyebut diri mereka sebagai sahabat. Terima kasih ayah, karena selalu memberi saya wejangan yang berguna untuk kehidupan saya.

1 comment:

  1. kak, percayalah... aku sahabatmu :)

    ReplyDelete

Terima kasih....