20 December 2011

Trip Ujung Genteng

Bulan November lalu saya iseng-iseng membuka produk-produk diskonan di website Diskon Gokil. Sebuah tawaran trip ke Ujung Genteng benar-benar menarik perhatian saya. Lantas sayapun mengajak teman-teman kantor saya untuk ikut serta juga dalam trip ini, tapi ternyata tidak ada yang berminat sama sekali. Karena ingin sekali pergi kesana, sayapun nekat membeli voucher trip Ujung Genteng meskipun tidak ada rekan seperjalanan yang saya kenal. Prinsip saya mah, nanti dalam trip ini pasti saya akan banyak bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru. Dengan mengucap Bismillah, sayapun membeli paket perjalanan ke Ujung Genteng di tanggal 16 - 18 Desember 2011.



Buat yang belum tahu, Ujung Genteng adalah wilayah pesisir pantai di wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Dari Jakarta, kita bisa mencapai Ujung Genteng dengan menggunakan mobil selama lebih kurang 7 jam perjalanan. Saya sendiri minta dijemput di Citraland Mall, untuk kemudian berkumpul dengan peserta yang lain di Botani Square Bogor. Dari Bogor kemudian kita memulai perjalanan menuju Ujung Genteng pada pukul 00.00 WIB. Sepanjang perjalanan saya lebih memilih untuk tidur, mengingat besok paginya saya akan langsung memulai trip sepanjang hari.




Kami memasuki wilayah Ujung Genteng sekitar pukul 6 pagi dan tujuan pertama kami adalah "tanah lot" Amanda Ratu. Sayang pagi itu cuaca dalam keadaan gerimis, sehingga kami tidak bisa melihat sunrise. Amanda Ratu sebenarnya adalah salah satu penginapan berbentuk villa yang terdapat di Ujung Genteng. Tetapi karena ada pemandangan Tanah Lot ini, maka kawasan Amanda Ratu didatangi oleh banyak pengunjung. Setelah puas berfoto-foto dibawah gerimis, kami melanjutkan perjalanan kepenginapan. Rombongan kami menginap di Pondok Hexa. Satu pondok terdapat 2 kamar yang bisa dihuni oleh 8 orang. Saya sendiri cukup beruntung bisa satu pondokan dengan sahabat-sahabat baru yang ternyata sudah punya jam terbang berpetualang kebanyak tempat di Indonesia dan luar negeri.




Setelah mandi dan sarapan, kamipun segera melanjutkan perjalanan mengeksplorasi pesisir Ujung Genteng. Mulai dari pojok Ujung Genteng yang harus melewati tempat pelelangan ikan, bengkel perahu-perahu nelayan, lalu melewati jalan tanah yang dikelilingi hutan dan semak belukar hingga akhirnya kita sampai sebuah pantai dan ada tenda biru yang katanya adalah tenda peramal. Benar atau tidaknya saya tidak tahu karena saya lebih fokus berfoto-foto di pantai. Selanjutnya kita kembali melanjutkan perjalanan menuju dermaga lama Ujung Genteng. Dermaga ini dalam kondisi hancur. Hanya tersisa puing-puingnya saja. Dalam kondisi surut, kita bisa menuju puing dermaga dengan mudah. Tetapi karena saya dan rombongan datang dalam kondisi sedang pasang, maka perlu berhati-hati untuk mencapai puing-puing dermaga. Salah satu caranya dengan bergandengan tangan beramai ramai, dengan konsekuensi jatuh satu maka semua yang berpegangan akan jatuh semua tercebur. Tapi kalaupun jatuh tidak usah takut tenggelam karena airnya sama sekali tidak dalam. Menurut informasi yang saya dapatkan dari tour guide kami, dermaga ini akan dibangun kembali sehingga kapal-kapal bisa merapat disini.




Selanjutnya kami beristirahat sejenak sembari makan siang di sebuah rumah makan berbentuk pondokan yang menghadap ke pantai. Angin yang semilir membuat perut ini lapar sekali. Apalagi makanan yang dihidangkan juga sangat lezat. Saya sampai nambah dua kali dan menghabiskan tumis kangkung yang rasanya sangat lezat. Hahahaha... Setelah makan siang kami diajak menuju pantai Cibuaya. Disini kami diperbolehkan untuk berenang. Saya sendiri lebih suka berfoto-foto disini. Saya kurang suka pantainya karena pasirnya kasar dan dipenuhi semacam kerang-kerang kecil sebesar butiran beras dan jagung.





Tujuan selanjutnya adalah menuju Pantai Pangumbahan. Pantai ini merupakan kawasan konservasi penyu hijau. Di gerbang masuk terdapat sebuah gedung dengan patung penyu hijau berukuran besar. Selain itu papan informasi mengenai penyu hijau juga banyak dijumpai disini. Menuju pantai Pangumbahan saya melihat gundukan-gundukan seperti kuburan bernisan yang dipagari. Saya langsung menebak kalau gundukan ini berisi telur-telur penyu yang dipindahkan dan ditanam disini hingga menetas. Papan seperti nisan bertuliskan tanggal telur ditanam dan perkiraan telur menetas.






Pantai Pangumbahan ini sangat menyenangkan, karena memiliki tekstur pasir yang halus dan ombak yang cukup deras. Sangat menyenangkan berenang disini, sekedar bermain-main air dipinggir pantai, berjemur atau bahkan bermain bola. Acara yang paling saya tunggu disini adalah melepas tukik kelaut. Jadi anak-anak penyu atau biasa disebut tukik yang telah menetas disimpan dulu beberapa saat ditempat khusus sebelum dilepaskan kelaut. Biasanya tukik dilepaskan sore hari sekitar pukul 17.30. Kami berbaris di pinggir pantai dan masing-masing memegang seekor tukik untuk dilepas. Sore itu sekitar 800 tukik dilepas kelautan. Saya sendiri memutuskan untuk memberi nama tukik yang saya pegang sama dengan nama panggilan saya. Goiq... Saya bisikkan kepada Goiq kecil agar dia bisa bertahan hidup dan kelak akan kembali ke Pantai Pangumbahan untuk berkembang biak. Lalu saya lepas Goiq kecil dari pegangan tangan saya dan dia segera menyusul teman-temannya berjalan menuju lautan lepas.

Setelah melepas tukik kelautan, kamipun kembali ke penginapan untuk mandi dan makan malam. Selesai makan malam, kami kembali lagi ke Pantai Pangumbahan untuk melihat penyu bertelur. Dan saya sangat beruntung karena malam itu bisa melihat seekor penyu hijau yang menurut bapak penjaga konservasi yang menemani kami malam itu sudah berusia sekitar 25 tahun. Penyu itu ukurannya sangat besar, dan memerlukan waktu yang cukup lama dari kemunculannya di bibir pantai, lalu berjalan menuju tengah-tengah pantai untuk membuat lubang dan bertelur. Karena penyu tidak menyukai cahaya yang terang, maka kami dilarang untuk mengambil gambar dengan menggunakan blitz. Karena jika ada cahaya dapat membuat penyu kembali kelaut dan mecari tempat lain untuk bertelur. Setelah melihat penyu bertelur, kami kembali penginapan untuk beristirahat.





Pagi harinya setelah selesai mandi dan sarapan, kami langsung check out dari penginapan dan tujuan hari ini adalah menuju air terjun Cikaso. Untuk menuju air terjun Cikaso kami harus menempuh perjalanan lebih kurang 45 menit. Dan untuk menuju air terjunnya, kami harus menaiki kapal motor seperti ketek yang berada di Palembang. Sayangnya karena sedang musim penghujan, air terjunnya berwarna kecoklatan karena bercampur dengan lumpur. Padahal menurut cerita teman-teman saya yang sudah pernah datang kesini, kalau tidak musim penghujan, air nya bening dan sangat menyenangkan berenang disana. Mau bagaimana lagi, inilah resiko jika melakukan perjalanan pada musim penghujan. Jadi terima nasib sajalah. Hahahahaha... Curug Cikaso adalah tempat terakhir yang kami datangi dalam trip singkat ini. Setelahnya kamipun bersiap melanjutkan perjalanan menuju Jakarta kembali... Saya pribadi cukup puas dengan perjalanan kali ini. Puas karena bisa mengunjungi tempat yang yang belum pernah saya datangi, dan puas juga karena bisa bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki hobi yang sama. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kembali untuk menikmati kembali pesona Ujung Genteng...

9 comments:

  1. kaos yang paling atas keren gambarnya :D

    ReplyDelete
  2. wow pantai pasir putih dan kura kuranya keren sekali :)

    aku pikir kalau ada orang yang mau ke ujung genteng itu cuman becandaan saja

    ternyata ada beneran :)

    ReplyDelete
  3. wah ujung genteng..
    saya tadi sekilas baca titlenya malah seperti ujung pandang T_T

    tapi keren juga ya ada tempat pelestarian penyu nya yang unyu-unyu :D

    ReplyDelete
  4. Ujung Genteng pernah jadi itinerary perjalan kami keliling Jawa Barat (kalo nggak salah) tapi kaena rutenya jadinya muter... nggak jadi ke sini deh :D

    ReplyDelete
  5. waaah, pasti seru banget ya berangkat sama orang2 yg belum kita sebelumnya :D
    daridulu aku pengen bgt liat tempat konservasi penyu. kok ga ngajak2 sih? *eh?* :p

    ReplyDelete
  6. Subhanallah, keren sekali ujung genteng

    ReplyDelete
  7. Wihiii...keren banget ya mas :D
    Btw, saya sendiri baru tau yang namanya Ujung Genteng :))
    Ah, kapan2 saya coba kesana deh, kalo punya duit, wkwkwk... :))

    ReplyDelete
  8. gak ada foto sunset di sana mas? pengalaman saya sampe saat ini, ngeliat pemandangan sunset maha dashyat itu di Ujung Genteng!! :D

    jadi kangen pengen sunset'an di sana nih mas... hehehe...

    ReplyDelete
  9. @honeylizious : iya, aku juga paling suka kaos yang itu.. makanya di foto..
    @jarwadi : hahahaha... Ujung Genteng, Ujung Berung dan Ujung Kulon itu semua nama tempat bro..
    @Anggi : *pasangin kacamata*
    @tuteh : next time harus kesini..
    @Nieke : yukz bikin kopdar blogger disini
    @Aditya : :)
    @Zippy : harus kesini bro...
    @Chocky : resiko trip di musim penghujan bro.. ga dapet sunset dan sunrise sama sekali karena pagi hujan sore juga hujan.. next time pengen kesana lagi :D

    ReplyDelete

Terima kasih....