09 November 2011

Review Film : Real Steel

Kemarin sore sebelum pulang kantor, seorang rekan meminjam laptop saya untuk melihat film yang sedang tayang di bioskop. Dan setelah rekan saya selesai melihat film yang ingin dia lihat, lalu sayapun melihat film apa yang sedang tayang di Pejaten Village. Mendadak saya tertarik untuk menonton sebuah film berjudul Real Steel. Maka meluncurlah saya ke Pejaten Village untuk mengejar jam pertunjukkan film tersebut.




Film ini bersetting di tahun 2020 dimana diceritakan penggunaan robot sudah lebih marak daripada sekarang. Adalah Charlie Kenton yang diperankan oleh Hugh Jackman, seorang penggila robot, memiliki robot dan suka mengadu robotnya dalam pertarungan boxing antar robot. Bagi Charlie, robot adalah hidupnya meskipun dia harus mengorbankan kehidupan pribadinya termasuk istri dan anaknya. Watak yang keras,egois dan terkadang tanpa perhitungan diperankan dengan baik oleh Hugh Jackman. Sifat tanpa perhitungan yang dimiliki Charlie membuat dia terlibat banyak hutang karena mengalami kekalahan dalam pertarungan robot. Hingga akhirnya hadir tokoh Max Kenton yang diperankan oleh Dakota Goyo, putra semata wayang Charlie berumur 11 tahun yang ditinggalkannya sebelum dia lahir. Charlie menyerahkan hak asuh Max yang telah ditinggal sang ibu untuk selamanya kepada adik dari mendiang istrinya tersebut. Tentu saja Charlie melakukan hal ini karena mendapatkan imbalan dari suami adik istrinya tersebut. Dengan catatan Charlie harus menjaga sang putra selama beberapa waktu selama mereka berada diluar negeri. Dan disinilah hubungan ayah dan anak yang kaku ini mulai berjalan.

Tadinya saya berpikir akan menjumpai cerita robot yang mempunyai jiwa dan dapat berbicara seperti dalam film Transformer, tetapi ternyata saya salah. Robot-robot yang terdapat dalam film ini tetaplah sebuah robot biasa yang dikendalikan oleh manusia. Hanya saja karena setting film ini adalah tahun 2020, tentu saja penampakan robot dan alat-alat kendalinya sudah lumayan canggih menurut saya. Dari awal film berjalan, saya sudah bisa menebak alur ceritanya. Tentu saja proses mencairnya sebuah kekakuan hubungan antara ayah dan anak dalam kebersamaan mereka yang bisa dibilang karena terpaksa. Juga bagaimana kerasnya persaingan dunia boxing antar robot, perjudian dan intrik-intrik yang terjadi dalamnya. Meskipun alurnya relatif mudah ditebak, tetapi tidak membuat film ini menjadi membosankan. Tentu saja hal ini karena akting maksimal dari para pemerannya. Pastinya tidak ada yang meragukan kemampuan akting Hugh Jackman, tetapi jangan lupakan juga Dakota Goyo. Meskipun masih sangat belia, kemampuan aktingnya membuat film ini menjadi terasa lebih hidup. Lihatlah bagaimana saat Max melatih Atom robotnya ngedance. Sepintas lalu saya seperti melihat sosok Justin Bieber dalam diri Dakota Goyo. Dan diluar hubungan ayah dan anak keluarga Kenton ini, pastinya pertarungan para robot di arena boxing ini juga sangat luar biasa.

Intinya saya puas menyaksikan film Real Steel ini. Sebuah tontonan yang sangat menghibur meskipun dengan alur cerita yang relatif mudah terbaca. Dan film ini layak untuk saya rekomendasikan kepada teman-teman yang mungkin sedang mencari hiburan yang seru. Saya beri nilai 8.5 dari 10 untuk film Real Steel.