08 January 2012

Berkunjung Ke Siak Sri Indrapura

Sudah beberapa kali saya berkunjung ke Pekanbaru dalam rangka dinas kantor menemani artis-artis saya yang perform disana. Dalam sebuah kesempatan dimana jadwal saya tidak terlalu padat di Pekanbaru, saya minta diantar teman saya berkunjung ke beberapa tempat diluar kota Pekanbaru. Teman saya langsung menawari saya berkunjung ke Siak yang tidak terlalu jauh dari Pekanbaru dan bisa kesana tanpa menginap. Sayapun langsung mengangguk setuju. Untuk menuju Siak, ada dua alternatif perjalanan yang bisa ditempuh. Yang pertama menggunakan mobil dan kedua menggunakan kapal motor melintasi sungai. Jarak perjalanan keduanya tidak berbeda jauh, sekitar 1,5 sampai 2 jam. Saya memilih alternatif yang kedua. Kami harus menuju ke Pelabuhan Sungai Duku dan membeli tiket kapal motor untuk menuju Siak. Ada berbagai pilihan jam keberangkatan menuju Siak dengan harga tiket sekitar Rp.60.000,- an. Maka mulailah saya dan teman saya melakukan perjalanan menuju Siak yang bergelar Negeri Istana...



Kapal motor yang kami tumpangi hari itu penuh oleh penumpang yang akan menuju keberbgai tempat dipesisir sungai yang kami lintasi. Sebagai informasi, kapal ini berhenti dibeberapa perhentian. Awalnya saya sangat antusias melihat kiri kanan ketika kapal baru berjalan, tapi beberapa saat kemudian semua menjadi membosankan dan sayapun memilih untuk tidur... Saya terbangun ketika sudah memasuki Siak yang ditandai dengan melintas dibawah jembatan Siak yang bernama Jembatan Tengku Agung Sulthanah Latifah. Jembatan ini sangat modern tapi tetap berbalut dengan pernak pernik Melayu yang kental. Disisi jembatan terdapat Mesjid yang berdiri megah yang sayangnya tidak sempat saya foto. Tidak lama setelah melintasi jembatan, kamipun tiba di Pelabuhan Siak.





Saya mencium bau pandan yang sangat wangi ketika menginjakkan kaki pertama kali di Siak. Wangi pandan yang menyenangkan tapi juga terasa mistis. Teman saya mengingatkan bahwa tidak boleh sembarangan bicara maupun memikirkan hal-hal yang aneh ketika berada di Siak. Dari Pelabuhan Siak kami menyinggahi Mesjid Raya Syahabuddin untuk menunaikan sholat Dzuhur. Mesjid ini dibangun pada tahun 1926. Pada saat didirikan, mesjid ini berjarak sekitar 100 meter dari sungai, tapi saat ini hanya berjarak sekitar 25 meter saja karena abrasi bibir sungai. Mungkin karena itulah sepanjang bibir sungai itu sekarang dibuat turap. Di sebelah mesjid Syahabudin terdapat sebuah bangunan modern yang mirip mesjid, rupanya bangunan itu adalah makan Sultan Syarif Kasim II dan permaisurinya. Sayapun menyempatkan diri berziarah...





Selesai sholat Dzuhur dan berziarah, saya dan teman saya melanjutkan perjalanan menuju Istana Kerajaan Siak. Kalau melihat dari beberapa sisi, bangunan istananya seperti tidak terlalu besar, tapi saya cukup terperangah melihatnya. Bangunan Istana Kerajaan Siak ini masih terawat dengan baik. Bangunannya seperti mengadopsi bangunan kerajaan di Eropa yang berbalut dengan arsitektur Arab. Menurut Wikipedia, Siak Sri Indrapura merupakan kerajaan Islam yang didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya Kesultanan Siak muncul menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan. Kerajaan Siak juga sempat beberapa kali berganti kepemimpinan mulai dari Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah Almarhum Buantan atau lebih dikenal dengan Raja Kecik (1723-1744) hingga tahta terakhir yang dipegang oleh Sultan Assyaidis Syarif Kasim II Abdul Jalil Syaifuddin(1908-1946) atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Syarif Kasim II. Dibawah kepimpinan Sultan Syarif Kasim II lah Kerajaan Siak menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tahun 1945.





Untuk bisa masuk kedalam Istana kita harus membayar tiket masuk sebesar Rp.3.000,- saja. Kita bisa melihat semua peninggalan sejarah yang masih terawat dengan baik didalam istana ini. Mulai dari koleksi foto-foto, lukisan, furniture dan benda-benda antik lainnya. Saya sangat tertarik dengan replika kursi berwarna keemasan yang mana menurut cerita yang saya dengar, kursi yang asli memang berlapiskan emas murni. Selain itu saya juga sangat tertarik dengan pemutar musik tempo dulu dengan merk Komet. Benda ini konon kabarnya hanya ada 2 buah saja didunia. Gosipnya, salah seorang musisi terkenal tanah air berani membeli Komet ini dengan harga yang fantastis. Komet ini masih terawat dengan baik bahkan masih bisa dipergunakan hingga sekarang. Kita juga bisa melihat koleksi-koleksi yang terdapat dilantai dua dengan menggunakan tangga berbentuk spiral. Ada 2 buah tangga spiral yang dipergunakan masing-masing untuk naik dan turun. Menurut teman saya, ada mitos seputar tangga spiral ini. Kabarnya kalau kita menghitung jumlah anak tangga nya tidak akan sama ketika naik dan turun. Saya sendiri tidak sempat membuktikannya.. Namanya juga hanya mitos. Hahahahaha.



Setelah puas berkekeling Istana Kerajaan Siak, kamipun memutuskan untuk kembali ke pelabuhan karena mengejar kapal motor terakhir yang akan menuju Pekanbaru. Dari dermaga pelabuhan Siak terlihat sebuah bangunan megah dengan banyak anak tangga. Menurut teman saya bangunan itu bernama Balai Kerapatan Tinggi tempat untuk sidang perkara dan tempat pertabalan Sultan. Sayangnya karena keterbatasan waktu saya tidak sempat untuk melihat Balai Kerapatan Tinggi dari dekat. Saya juga tidak sempat ngopi di kedai kopi yang sangat terkenal menurut teman saya, juga tidak sempat berfoto di Jembatan Siak dari dekat dan Mesjid megah yang berada di tepiannya. Mudah-mudahan lain kali bila berkunjung ke Pekanbaru saya bisa melengkapi semuanya...

12 comments:

  1. mantep... tuhh.. bisa di jadiin planning vacation

    ReplyDelete
  2. keren. mesjid raya syahabuddin-nya cantik banget... dipinggir sungai yang bersih pula... :matabelo:

    ReplyDelete
  3. besok besok lagi kalau jalan-jalan jangan lupa ajak saya yah :)

    ReplyDelete
  4. goiq kamu jalan2 muluw, ajak2 gw ngapa #eh siapa elo? :)))

    ReplyDelete
  5. jadi pengen berkunjung ke siak sri, neh. indonesia memang kaya. saya aja yang tinggal di desa betah banget. semua bisa dinikmati gratis

    ReplyDelete
  6. Lhooooo ngopi dulu baru pergi dinas lagi. :D

    ReplyDelete
  7. Saya belum pernah melakukan perjalanan ke luar pulau Jawa selain Bali sendiri, Lombok yang deket aja saya belum keturutan :(

    Bisa jadi alternative tujuan jalan-jalan :)

    ReplyDelete
  8. enak nyo plesiran trus kk goiq.. ajak dong adek nih *kedip*

    ReplyDelete
  9. fotonya cantik cantik :)

    ReplyDelete
  10. Kangennnn Pekanbaru.. Kangen nasi minyak *brb pesan tiket

    ReplyDelete
  11. Sayangnya saya belum sempat ke sana, padahal sudah sering ke Pekanbaru. Lain kali kalau ke sana pasti mampir. Terima kasih infonya.

    ReplyDelete
  12. yukk.. Lanjut kunjungi siak lagi..
    Saya asli org siak. Salam kenal buat teman* yg sudah pernah k siak dn yg berencana akan dtg kesini.
    Masih banyak peninggalan sejarah d siak. Misalnya kolam hijau dan makam raja kecik yg berada di langkai.

    ReplyDelete

Terima kasih....