31 October 2013

Pernikahan Adat

Sumber foto : www.djisamsoe.com
Menikah adalah impian setiap orang, termasuk saya. Segudang persiapan harus dilakukan untuk menjalankan prosesi melepas masa lajang ini. Kesabaran pun diperlukan supaya semua hal berlangsung sebagaimana mestinya. Di era modern seperti sekarang ini, menikah tetap saja bukan urusan kedua mempelai, melainkan urusan dua keluarga besar. Bahkan bila kedua pasangan berasal dari suku yang jelas memiliki prosesi adat yang berbeda, pernikahan juga akan menyertakan pemimpin adat atau orang-orang yang dituakan. Setiap kepentingan semua pihak seolah harus terpenuhi supaya semua berjalan lancar. 

Walaupun besar di era modern, saya sendiri punya cita-cita besar untuk menikah dengan adat tempat saya di lahirkan. Melihat hasil karya foto dari Heintje Hery, saya teringat busana pengantin dari daerah tempat saya berasal. Mulai dari aksesori sampai hiasan yang membalut tangan mempelai wanita. Saya tahu bahwa prosesi adat termasuklah busana pengantin adat yang harus saya dan pasangan kenakan nanti demikian rumit dengan banyaknya aksesori, tapi saya pantang mundur untuk menjalankan mimpi besar tersebut. Banyak diantara teman-teman saya yang ngotot berperang urat syaraf dengan keluarga besarnya demi bisa menikah dengan busana sesimpel mungkin dan tanpa embel-embel prosesi adat yang jelimet. Tapi entah kenapa bagi saya pernikahan adat itu sesuatu yang sakral dan sarat akan makna sebagai bekal dalam menjalankan biduk rumah tangga. Prosesi adat yang dijalankan dalam pernikahan juga merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi saya sebagai salah satu anggota dalam kerukunan adat tempat saya berasal. Dan dalam beberapa adat tertentu di Indonesia, setiap pasangan yang menikah akan mendapat gelar tersendiri yang menandakan mereka sudah menjadi individu mandiri yang lepas dari bayang-bayang orang tuanya.

Prosesi pernikahan adat di Indonesia tidak dapat dipungkiri merupakan Potret Mahakaya Indonesia. Bagaimana tidak, dari Sabang sampai Merauke memiliki prosesi pernikahan adat yang berbeda satu dengan yang lainnya. Berbeda dari prosesi adat hingga busana pengantin dan aksesorinya. Jika bukan kita sebagai generasi muda suku adat tertentu yang melestarikan pernikahan adat ini, siapa lagi yang akan membiarkan pernikahan adat tetap hidup di Indonesia ?

10 comments:

  1. selamat menempuh hidup baru, bro, hehehe

    ngomong-ngomong akhir bulan ini ada waktu ke jogja ngga? di jogja ada event kopdar blogger nusantara lo #BN2013

    ReplyDelete
    Replies
    1. huusss.. jangan nyebar gosip ah.. hahahaha. Insya Allah saya ikutan mas. Mudah-mudahan gak ada kegiatan lain

      Delete
  2. pertanyaan saya, apa ada bang yg menikah tidak menggunakan adatnya? Kecuali orang bule sih ya. Atau mungkin banyak. Entahlah. Tp kalo ditempat saya syukurnya pernikahan adat itu wajib. Mau ekonominya tinggi atau rendah. Itu harus. Udah tradisi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang sih sudah banyak kok yang menikah tanpa acara adat. dalam arti kata cuma akad nikah atau pemberkatan pernikahan, lalu resepsi tanpa acara-acara berbau adat..

      Delete
  3. Wah mau dong lihat pernikahan adat Palembang.... undang2 yak... wkwkwk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha... elu dulu deh Do :))

      Delete
  4. bagiamanpun, penikahan dengan mengikuti adat memang agak sedikit ribet, tapi dibalik itu semua terkandung makna yang dalam.... bagi mereka yang gak mau ribet lebih memilih untuk menikah dengan sesederhana mungkin krn beberapa alasan tersendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul Jo.. tapi saya justru ingin sekali menikah dengan acara adat supaya bisa meresapi makna-makna dibalik upacara adat itu sendiri..

      Delete
  5. dan di zaman sekarang ini, budaya sudah dimodifikasi sedemikian rupa. yg masih orijinal sudah jarang..

    ReplyDelete

Terima kasih....