02 March 2014

Saya Dan Narkoba


Saya terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Walaupun lahir di Jakarta, tapi saya bertumbuh besar dan menghabiskan masa remaja saya hingga tamat SMA di Palembang. Ayah saya mendidik kami berempat dengan keras. Semua hidup dalam aturan dan disiplin yang ditegakkan oleh ayah. Walaupun sejak SMP saya tinggal di rumah yang terpisah dari orang tua, tapi hal tersebut tidak menjadikan saya bebas. Saya tetap hidup dalam aturan yang ditetapkan oleh orang tua meskipun tinggal terpisah. Karena saya tahu, ayah selalu memantau pergerakan saya setiap hari. Walaupun besar dalam sebuah kedisiplinan, ayah tidak pernah membatasi pergaulan saya. Saya bebas membawa teman-teman saya bermain kerumah bahkan sampai menginap. Saya juga tidak dilarang bermain kerumah teman-teman saya selama pulang sebelum maghrib atau semalam-malamnya pulang jam 21.00. Itupun dengan catatan sudah izin sebelumnya akan pulang malam dan sudah disetujui pastinya.

Dengan membuat kami berpikir bahwa kami seolah terpantau, membuat kami bersaudara juga seolah enggan untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat beliau murka. Misalnya saja, saya rela dibilang banci oleh beberapa teman-teman karena saya tidak merokok. Padahal teman-teman satu kelompok saya semuanya merokok. Saya lebih rela diledek daripada membayangkan murka ayah saya yang mendapati saya ketahuan merokok. Karena saya merasa ayah saya selalu memantau gerak-gerik saya. Waktu SMA saya bersahabat dengan teman-teman yang sedang belajar sampai yang sudah mahir merokok. dari mulai merokok, mereka mulai mencoba minuman beralkohol. Saya masih ingat bagaimana mereka harus curi-curi untuk membeli sebotol bir untuk diminum bersama. Tapi rasa takut membuat saya menolak untuk minum. Dan untungnya saya bukan tipikal orang yang “panas” bila diledekin teman-teman saya. Lagipula mereka tidak sampai memaksa atau nyekokin saya untuk minum.

Setamat SMA, seperti kebanyakan orang Sumatera lainnya, saya harus merantau mengikuti jejak abang saya yang sudah terlebih dahulu kuliah di ibu kota Jakarta. Awalnya saya ingin kuliah di Malang, bahkan sudah sempat nekat jalan kesana untuk mendaftar kuliah. Tapi memang dasar jodohnya harus kuliah di Jakarta, akhirnya saya harus kembali dan kuliah di Jakarta. Walaupun di Jakarta ada beberapa rumah kerabat dekat, tapi saya memutuskan untuk kos dekat kampus saja. Untungnya saya mengikuti sebuah organisasi kemahasiswaan di kampus dan menjadi pengurusnya. Tempat kos saya yang dekat dengan kampus membuat teman-teman organisasi memutuskan untuk menyewa satu kamar di tempat kos saya untuk dijadikan basecamp. Jadi semua pengurus organisasi bisa memakai tempat kos tersebut. Setiap hari sepulang kuliah, tempat kos saya selalu ramai dengan teman-teman organisasi. Ada saja yang dibahas seharian sampai malam. Bila ada pembahasan yang sangat seru, tak jarang banyak sekali yang menginap. Ujung-ujungnya kamar saya juga dipakai untuk tempat tidur.

Banyak kepala berkumpul tentu saja ada banyak sifat dan kebiasaan yang harus saya hadapi. Ditambah lagi saat itu bayang-bayang ketakutan karena selalu terpantau oleh ayah saya sudah tidak ada lagi. Sejak saya kuliah dan kos di Jakarta saya merasa menjadi manusia yang bebas. Ayah saya di Palembang dan saya di Jakarta, kalaupun ada saudara-saudara dekat di Jakarta toh mereka sudah sibuk dengan kegiatan dan keluarganya masing-masing. Tidak mungkinlah bisa memantau saya setiap saat, begitulah pemikiran saya saat itu. saat menikmati masa kebebasan itulah untuk pertama kalinya saya belajar merokok dari teman-teman saya yang sering nongkrong di tempat kos. Akhirnya saya malah jadi perokok berat. Tiada hari tanpa begadang yang saya lewatkan tanpa merokok. Setelah mengenal rokok saya juga mulai mengenal miras. Menurut teman-teman saya, begadang itu tiada sempurna sambil merokok dan minum bir. Tapi untungnya saya tidak terlalu suka minuman bernama bir itu. Tapi demi kebersamaan saya minum juga sedikit dan seringnya sih saya buang diam-diam.

Setelah menjadi perokok dan mulai mengenal miras (walaupun faktanya sampai sekarang saya tidak pernah suka rasa beberapa miras seperti bir), beberapa teman mulai mengenalkan saya pada pengalaman baru. Dia bernama ganja. Awalnya saya pikir teman-teman saya sedang merokok, tapi entah kenapa baunya berbeda. lebih tajam dan menusuk. Mereka menawarkan saya untuk menghisapnya. Rasanya beda tipis dengan merokok tapi sensasinya lebih nendang daripada merokok.  Itulah kali pertama saya menghisap ganja seumur hidup saya. Memang menghisap ganja tidak pernah menjadi kebiasaan rutin saya dan teman-teman di kos-kosan. Tapi beberapa kali ada saja teman yang membawanya ke kos dan kami buat beberapa linting lalu dihisap bersama. Efek ganja yang sering saya rasakan pada diri saya bermacam-macam. Kadang membuat ngantuk, kadang membuat gembira. Bila sudah bersama teman-teman kami bisa ngeganja sambil tertawa tawa. Walaupun tidak pernah merasa sampai kecanduan, tapi saya menikmati pengalaman ini bersama teman-teman saya.

Hingga akhirnya saya mendengar kabar dari kampung halaman bahwa usaha ayah saya sedang tidak kondusif. Saya diminta untuk prihatin mengingat adik-adik saya juga akan segera melanjutkan ke bangku kuliah dan perlu biaya yang tidak sedikit. Bahkan uang kuliah sayapun dibayarkan oleh adik ayah. Saya seperti tertampar. Saya disini bersenang-senang bersama teman-teman saya sementara orang tua saya sedang dalam kondisi yang prihatin. Betapa kurang ajarnya saya sebagai anak. Saya sempat mengutarakan niat berhenti kuliah dan kembali ke Palembang, tapi ayah melarang dan meminta saya tetap meneruskan kuliah di Jakarta. Beliau berpesan supaya saya bisa lulus tepat waktu, karena beliau sedari awal tidak pernah meminta saya lulus dengan predikat terbaik atau berprestasi. Baginya saya lulus tepat waktu itu sudah menjadi kebanggaannya sebagai orang tua.

Sejak itu saya menguatkan tekat untuk menjadi lebih baik. Saya masih tetap merokok ( baru berhenti merokok setelah lulus kuliah ) tapi sudah mau lagi menghisap ganja. Saya tidak mau ambil resiko ayah saya harus menanggung beban yang lebih berat bila saya sampai kecanduan atau tertangkap tangan sedang mengkonsumsi ganja oleh pihak kepolisian. Saya tetap bersahabat dengan teman-teman saya, dan untungnya mereka bisa mengerti bahkan semakin mengurangi kegiatan minum-minum dan ngeganja di tempat kos. Belakangan saya tahu mereka mulai kuatir juga karena sering melihat mobil polisi yang wara-wiri dekat tempat kos. Bahkan ada teman yang terang-terangan bercerita sampai mendatangi tempat rehabilitasi pengguna narkoba. Dan saya hidup sebagai manusia anti narkoba hingga saat ini.


Saya bersyukur dengan kejadian yang menimpa usaha ayah saya dapat membuat hidup saya jadi lebih baik. Sedangkan diluar sana saya tahu masih banyak pelajar dan mahasiswa yang sering melakukan pesta miras dan narkoba di tempat kos mereka. Banyak mahasiswa daerah yang tadinya bersih kemudian menjadi pecandu narkoba karena pengaruh pergaulan. Karena itulah saran saya untuk para orang tua yang akan menyekolahkan anaknya jauh dari rumah, sering-seringlah pantau perkembangan anak kalian. Kalau perlu pilihkan tempat kos yang induk semangnya tinggal disana. Sehingga para orang tua selain bisa memantau melalui anaknya langsung bisa juga memantau anaknya melalui pemilik / penjaga kos. Sehingga kita bisa meminimalisir kemungkinan anak-anak kebanggan kita jatuh kedalam pengaruh narkoba. Ingat, narkoba tidak mengenal usia, jenis kelamin dan pekerjaan. Siapapun bisa menjadi pengguna dan pecandu. Maka meminimalisir kemungkinan pada orang-orang terdekat kita adalah hal yang paling mungkin kita lakukan. Mari kita mencegah dan menyelamatkan pengguna narkoba serta jadikan tahun 2014 sebagai tahun penyelamatan pengguna narkoba.

16 comments:

  1. Waduh iya jangan dah kalo sampe main2 sama narkoba... Pasti kacau semua akhirnya....

    Gw dulu temen2 gw semua juga pada ngerokok. Tp untung nya pada pengertian kalo gw gak ngerokok jd mereka gak pernah ngebul2in ke arah gw. Hehe

    ReplyDelete
  2. pergaulan memang berpengaruh besar ya, terhadap pemakaian narkoba...Mas goiq aja yang SMA-nya bersih, ehhh...terbawa arus juga pas kuliah, hehe

    ReplyDelete
  3. saya, syukurnya sampai sekarang tidak merokok. padahal ayah dan adik saya perokok berat. biasalah orang di desa pasti merokok

    apalagi ganja dan miras, saya tidak sekali pun mencobanya :)

    ReplyDelete
  4. teman pergaulan memang bisa mewarnai kehidupan kita. syukurlah ada titik yang bisa mengembalikan pikiran sehingga bisa kembali ke jalan yang lurus :D

    ReplyDelete
  5. Paling menakutkan ya kang dengan barang-barang narkoba.

    Salam

    ReplyDelete
  6. itu adalah masa lalu,,masalalu yg sudah terkubur,,

    ReplyDelete
  7. itu daun untuk di lalap enak gak ya :) Semoga dijauhkan dengan narkoba ya

    ReplyDelete
  8. Salut sudha berhenti merokok mas :)

    ReplyDelete
  9. Wooooow, aku pernah belajar ngerokok juga waktu SMP, (atau SMA ya?), belajar di wese sendirian. Ternyata bukan style saya, soalnya merokok itu kayak lagaknya kayak "basa basi gaya sok keren" gitu khan? It's not my style.. hahaha..

    BERATI DIRIKU SELAMAT DARI ROKOK SEMATA-MATA KARENA BEDA STYLE!!!!

    emmeizing!

    ReplyDelete
  10. wahh masih untung tidak berkelanjutan ri...hehehhe...say no to narkoba!

    ReplyDelete
  11. SEmoga kejadian tersebut gak kejadian juga deh ama diri gw mas, :)
    soalnya dari sma gw udah anti banget ama Rokok dan Miras, apalagi narkoba.

    ReplyDelete
  12. saya gak tahan sama asap rokok, mungkin karena ada bakat asma. sempat sih jaman masih ABG labil dl test2 ngerokok tapi saya langsung batuk2 kayak nenek2, bukannya keren saya malah di tertawai heheheheh
    beruntung dapat bapak dan suami yg gak ngerokok, baca ini langsung teringat adik bungsu saya yang lagi kuliah di jawa semoga saja dia gak pernah coba2 narkoba... :)

    ReplyDelete
  13. Mau dong resepnya berhenti merokok. Suamiku enggak bisa dibilangin :(

    ReplyDelete
  14. Serem mas kalo dah nyinggung narkoba

    ReplyDelete
  15. Iam so proud of you. Good job bro !!!

    ReplyDelete
  16. Iam so proud of you. Good job bro !!!

    ReplyDelete

Terima kasih....